UPTD Puskesmas Oebobo melakukan upaya mengurangi penyebaran Covid – 19 dengan menerapkan Social Distancing (pembatasan sosial) sesuai dengan instruksi Walikota Kupang. Melalui sosialisasi terkait Social Distancing, Puskesmas Oebobo mengingatkan masyarakat untuk sebisa mungkin berdiam di rumah, hindari tempat umum seperti mall dan bioskop, hindari tempat lembab dan ber-AC, usahakan berada di ruang terbuka dan berjemur matahari, hindari keramaian dan kegiatan massal. Sementara itu diberi jarak antara pasien dengan pasien, pasien dengan petugas kesehatan serta mengingatkan masyarakat untuk mencuci tangan dengan sabun, atau menggunakan hand saniter, juga menjaga kesehatan dengan makan makanan yang bergizi untuk memperkuat daya tahan tubuh.

Social distancing sangat penting untuk memerangi pandemi covid-19 karena saat ini belum ada vaksin yang ditemukan. Anda harus melakukan segala upaya untuk sebisa mungkin menjaga jarak secara fisik dengan satu sama lain. 
 
Social distancing dilakukan selama 14 hari, poin utamanya adalah untuk menyelamatkan ribuan orang. Virus ini memiliki waktu inkubasi selama 14 hari.
 
Saat banyak orang melakukan aktivitasnya di rumah saja, maka laju penularannya bisa berkurang dan bahkan berhenti. Dengan seperti itu para tenaga medis bisa punya waktu untuk mengobati mereka yang sudah terpapar virus covid-19 sampai sembuh.
 
Social distancing diharapkan bisa menjadi jawaban untuk menghindari beludaknya pasien di rumah sakit seperti yang terjadi di Wuhan, Tiongkok dan Italia. 
 
Anda tidak perlu khawatir dengan berdiam diri di rumah. Ini karena Anda bisa tetap melakukan aktivitas seperti biasa di sana dengan menggunakan internet. Ini menjadi cara untuk lebih bersantai tapi tetap produktif.

 

Dengan social distancing, maka risiko Anda untuk tertular dari COVID-19 dari orang lain akan berkurang. Sebaliknya, jika Anda ternyata terinfeksi tapi tidak menyadarinya, maka menjauhkan diri dari keramaian akan sangat membantu mencegah penyebaran.

Virus SARS-COV2 yang merupakan penyebab COVID-19, menyebar melalui droplet atau percikan air liur. Jadi, jika seseorang yang terinfeksi virus ini kemudian tidak sengaja batuk atau bersin tanpa menutup mulutnya, maka droplet akan jatuh pada permukaan yang ada di dekatnya.

Saat ada orang lain yang tidak terinfeksi memegang permukaan tersebut, lalu menyentuh mulut, hidung atau matanya tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, maka ia berisiko tinggi ikut tertular. Inilah yang membuat angka penularan penyakit ini naik drastis dalam waktu singkat.

Banyak orang yang tidak sadar bahwa dirinya terinfeksi, lalu pergi ke berbagai lokasi untuk menemui teman dan kerabatnya. Akibatnya, penyebaran virus ini semakin luas. Apalagi, virus ini sudah bisa menular ke orang lain, meskipun orang-orang yang terinfeksi tidak merasakan gejala yang berat. Mereka bisa saja merasa sehat dan hanya sedikit bersin-bersin atau flu, namun ternyata sudah terinfeksi COVID-19.

Bayangkan jika orang yang terinfeksi itu masih tetap masuk kerja, sekolah, datang ke seminar, atau konser musik. Meski awalnya yang terinfeksi hanya satu orang, namun setelah menyebar, bisa saja ribuan orang lainnya yang berada di tempat tersebut, juga terinfeksi.

Jadi mulai sekarang, agar penyebaran virus ini tidak makin meluas di Indonesia, peran yang bisa Anda lakukan adalah dengan melakukan social distancing. Jangan beraktivitas di luar rumah kecuali jika benar-benar diperlukan. Untuk sementara waktu, hindari berkumpul secara langsung dengan teman atau saudara. Tidak perlu juga untuk mengunjungi pusat keramaian seperti mal atau tempat wisata.

Dipublikasi pada : Warta
Selasa, 03 Maret 2020 00:33

Mengenal Coronavirus

Pengertian Coronavirus

Coronavirus atau virus corona merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas ringan hingga sedang, seperti penyakit flu. Banyak orang terinfeksi virus ini, setidaknya satu kali dalam hidupnya.

Namun, beberapa jenis virus corona juga bisa menimbulkan penyakit yang lebih serius, seperti:

Faktor Risiko Infeksi Coronavirus  

Siapa pun dapat terinfeksi virus corona. Akan tetapi, bayi dan anak kecil, serta orang dengan kekebalan tubuh yang lemah lebih rentan terhadap serangan virus ini. Selain itu, kondisi musim juga mungkin berpengaruh. Contohnya, di Amerika Serikat, infeksi virus corona lebih umum terjadi pada musim gugur dan musim dingin. 

Di samping itu, seseorang yang tinggal atau berkunjung ke daerah atau negara yang rawan virus corona, juga berisiko terserang penyakit ini. Misalnya, berkunjung ke Tiongkok, khususnya kota Wuhan, yang pernah menjadi wabah 2019-nCoV pada Desember 2019 hingga Januari 2020. 

Penyebab Infeksi Coronavirus  

Infeksi coronavirus disebabkan oleh virus corona itu sendiri. Kebanyakan virus corona menyebar seperti virus lain pada umumnya, seperti: 

  • Percikan air liur pengidap (bantuk dan bersin).
  • Menyentuh tangan atau wajah orang yang terinfeksi.
  • Menyentuh mata, hidung, atau mulut setelah memegang barang yang terkena percikan air liur pengidap virus corona
  • Tinja atau feses (jarang terjadi)

Khusus untuk, novel coronavirus atau 2019-nCoV, masa inkubasi belum diketahui secara pasti. Namun, rata-rata gejala yang timbul setelah 2-14 hari setelah virus pertama masuk ke dalam tubuh. Di samping itu, metode transmisi 2019-nCoV juga belum diketahui dengan pasti. Awalnya, virus corona jenis 2019-nCoV diduga bersumber dari hewan. Virus corona  2019-nCoV merupakan virus yang beredar pada beberapa hewan, termasuk unta, kucing, dan kelelawar. 

Sebenarnya virus ini jarang sekali berevolusi dan menginfeksi manusia dan menyebar ke individu lainnya. Namun, kasus di Tiongkok kini menjadi bukti nyata kalau virus ini bisa menyebar dari hewan ke manusia. Bahkan, kini penularannya bisa dari manusia ke manusia. 

Gejala Infeksi Coronavirus  

Virus corona bisa menimbulkan beragam gejala pada pengidapnya. Gejala yang muncul ini bergantung pada jenis virus corona yang menyerang, dan seberapa serius infeksi yang terjadi. Berikut beberapa gejala virus corona yang terbilang ringan:

  • Hidung beringus.
  • Sakit kepala.
  • Batuk.
  • Sakit tenggorokan.
  • Demam.
  • Merasa tidak enak badan.

Hal yang perlu ditegaskan, beberapa virus corona dapat menyebabkan gejala yang parah. Infeksinya dapat berubah menjadi bronkitis dan pneumonia (disebabkan oleh 2019-nCoV) , yang menyebabkan gejala seperti:

  • Demam yang mungkin cukup tinggi bila pasien mengidap pneumonia.
  • Batuk dengan lendir.
  • Sesak napas.
  • Nyeri dada atau sesak saat bernapas dan batuk.

Infeksi bisa semakin parah bila menyerang kelompok individu tertentu. Contohnya orang dengan penyakit jantung atau paru-paru, orang dengan sistem kekebalan yang lemah, bayi, dan lansia. 

Pencegahan Infeksi Coronavirus 

Sampai saat ini belum ada vaksin untuk mencegah infeksi virus corona. Namun, setidaknya ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terjangkit virus ini. Berikut upaya yang bisa dilakukan: 

  • Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air selama 20 detik hingga bersih.
  • Hindari menyentuh wajah, hidung, atau mulut saat tangan dalam keadaan kotor atau belum dicuci.
  • Hindari kontak langsung atau berdekatan dengan orang yang sakit.
  • Hindari menyentuh hewan atau unggas liar. 
  • Membersihkan dan mensterilkan permukaan benda yang sering digunakan. 
  • Tutup hidung dan mulut ketika bersin atau batuk dengan tisu. Kemudian, buanglah tisu dan cuci tangan hingga bersih. 
  • Jangan keluar rumah dalam keadaan sakit.
  • Kenakan masker dan segera berobat ke fasilitas kesehatan ketika mengalami gejala penyakit saluran napas. 

Kapan Harus ke Dokter?

Jika gejala-gejala infeksi virus corona tak kunjung membaik dalam hitungan hari, atau gejalanya semakin berkembang, segeralah temui dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Diagnosis dan penanganan yang cepat dan tepat, bisa meningkatkan peluang kesembuhan infeksi virus tersebut. 

sumber: www.halodoc.com

Dipublikasi pada : Info Sehat
Jumat, 17 Januari 2020 01:35

Waspada DBD

Hujan yang turun tak menentu diselingi panas tanpa disadari  memicu munculnya ancaman yaitu nyamuk. Nyamuk Aedes aegypti merupakan media penularan virus dengue yang menjadi penyebab DBD. Namun jangan kuatir, DBD dapat kita cegah. Untuk itu perhatikan informasi berikut.

Dipublikasi pada : Info Sehat
Rabu, 09 Oktober 2019 00:30

Musim Kemarau, Awas DBD!

Demam Berdarah Dengue (DBD) biasanya terjadi pada musim hujan, namun  tahukah anda bahwa DBD juga terjadi di musim kemarau?

Dipublikasi pada : Info Sehat

Kegiatan Fasilitasi Implementasi Hygiene Sanitasi Pangan di sekolah merupakan salah satu bentuk kegiatan dari Seksi Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) Bidang Penyehatan Lingkungan (PL) dan Promosi Kesehatan (Promkes) Dinas Kesehatan Kota Kupang bersama Sanitarian UPT Puskesmas Oebobo, sekaligus melakukan Pengawasan Jajanan Anak Sekolah.

Kegiatan dilakukan di 50 SD di Kota Kupang, sejak Bulan Agustus. Sementara untuk wilayah kerja UPT Puskesmas Oebobo, kegiatan dilakukan di SD Impres Bertingkat Oebobo 2, SD GMIT Oebobo, SD Negeri Oetete 1, SD Inpres Oetete 2 dan SD Inpres Oetete 3. Pada hari Rabu, 18 September 2019 dilakukan Fasilitasi Implementasi Hygiene Sanitasi Pangan di SD Impres Bertingkat Oebobo 2 dan SD GMIT Oebobo, dan pada Kamis, 19 September 2019, di SD Negeri Oetete 1, SD Inpres Oetete 2 dan SD Inpres Oetete 3.

Sanitarian UPT Puskesmas Oebobo bersama Tim dari Seksi Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) Bidang Penyehatan Lingkungan (PL) dan Promosi Kesehatan (Promkes) Dinas Kesehatan Kota Kupang Melakukan Kegiatan Pemeriksaan Hygine Sanitasi Pangan di SDN Oetete 3 Kupang

 

Prinsip higiene dan sanitasi makanan adalah pengendalian terhadap empat faktor penyehatan makanan yaitu faktor tempat/bangunan, peralatan, orang, dan bahan makanan. Penyehatan makanan adalah upaya untuk mengendalikan empat faktor yaitu tempat, orang, alat, dan makanan yang dapat atau mungkin dapat menimbulkan gangguan kesehatan atau keracunan makanan. Untuk mengetahui faktor tersebut dapat menimbulkan penyakit atau keracunan makanan, perlu dilakukan analisis terhadap rangkaian kegiatan 6 (enam) prinsip higiene dan sanitasi makanan. Prinsip higiene sanitasi makanan yang diperlukan untuk mengendalikan kontaminasi makanan, antara lain pemilihan bahan baku makanan, penyimpanan bahan makanan, pengolahan makanan, pengangkutan makanan, penyimpanan makanan, serta penyajian makanan.

Dipublikasi pada : Warta

Larvasida atau lebih dikenal dengan nama Abate merupakan salah satu “amunisi” yang digunakan untuk menangkal terjadinya Demam Berdarah Dengue (DBD).

Dipublikasi pada : Info Sehat

Puskesmas Oebobo melakukan upaya pengendalian penyakit DBD melalui kegiatan GEBRAK DBD pada hari Jumat,  25 Januari 2019 Pukul 08.00 Wita hingga selesai.

Kegiatan ini melibatkan civitas akademika Kesehatan antara lain STIKES CHMK, Poltekes Kemenkes Kupang, FKM dan FK Undana beserta lintas sektoral di wilayah kerja Puskesmas Oebobo yakni Pihak Kelurahan Oebobo, Oetete dan Fatululi beserta masing-masing perangkat RT. Kegiatan dilakukan dengan titik fokus pada RT 012, 013, 023, 026, dan 027 Kelurahan Oebobo, RT 006, 008, 009, 010 dan Asrama Lasikode Kelurahan Oetete dan RT 29, 37, 38, 39, 40, 42, 46, 47, dan 48 Kelurahan Fatululi.

Adapun kegiatan yang dilakukan yakni memantau jentik pada tempat penampungan air, menaburkan abate serta menyebarkan leaflet dan KIE tentang DBD.

Kegiatan ini diharapkan dapat mengendalikan populasi nyamuk dan penularan DBD khususnya di wilayah kerja Puskesmas Oebobo dan Kota Kupang pada umum. (IG/RT)

Dipublikasi pada : Warta

Unit Pelayanan Teknis (UPT) Puskesmas Oebobo melakukan fogging atau pengasapan dengan insektisida membasmi nyamuk demam berdarah. Hal itu untuk mencegah penyebaran/penularan penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Fogging dilakukan pada hari Senin, 14 Januari 2019 Pukul 16.00 Wita hingga selesai berlokasi 2 (dua) titik focus yakni di RT 004/RW 01 dan RT 24/RW 09 Kelurahan Oebobo.

Fogging dilakukan oleh Tim P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) Dinas Kesehatan Kota Kupang yang dipimpin oleh Bapak Ferry Djelalu, S.KM didampingi oleh tenaga Surveilans Ibu Ike O. Giri, S.KM dan Pengelola Program DBD Ibu Tabitha A. Timu, S. KM serta Ketua RT 4/RW 1 Bapak Okto Lomi dan Ketua RT 24/RW 9 Bapak Yohanes Klake Duran.

Fogging ini bertujuan untuk memberantas nyamuk-nyamuk dewasa yang kemungkinan infeksius. Di sisi lain pemberantasan penyakit DBD juga harus terintegrasi mulai dari pencegahan, penemuan penderita, pengamatan penyakit, penyelidikan epidemiologi, penanggulangan, dan penyuluhan kepada masyarakat.

Mencegah terjadinya DBD membutuhkan dukungan dan peran aktif dari masyarakat melalui kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 3M Plus yaitu Menguras atau membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember air, tempat penampungan air minum, penampung air lemari es dan lain-lain; Menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air seperti drum, kendi, toren air, dan lain sebagainya; Mendaur/ menggunakan kembali  yang sudah tak terpakai Plus cara lain diantaranya menaburkan bubuk larvasida (lebih dikenal dengan bubuk abate) pada tempat penampungan air yang sulit dikuras dan dibersihkan.

Dipublikasi pada : Warta
Jumat, 11 Januari 2019 05:37

Cegah Demam Berdarah, Ingat 3 M Plus

Sebenarnya, Apa itu DBD? Bagaimana cara penularannya? Dan Bagaimana cara mencegahnya? Mari kita simak ulasan berikut.

Dipublikasi pada : Info Sehat