Rabu, 24 Februari 2021 01:13

Waspadai Gejala Long Covid-19

Bagi beberapa orang yang terkonfirmasi positif covid-19, telah menjalani masa Isolasi selama 14 hari, dan dikatakan sembuh, namun masih saja mengalami beberapa gejala covid-19. Hal ini disebut sebagai Long COVID-19. Long Covid-19 dapat tetap timbul dalam hitungan minggu, hingga bulan sejak pemeriksaan terakhir menunjukkan hasil yang negatif.

 

Beberapa Gejala dari Long COVID-19

Long COVID-19, yang disebut juga long-haul atau long-tail, adalah istilah yang digunakan orang-orang untuk menjelaskan jika seseorang mengidap gejala virus corona lebih dari dua minggu. Hal ini telah ditetapkan oleh WHO secara resmi dan mengartikan jika beberapa orang membutuhkan waktu yang lebih lama bagi virus tersebut. Agar berhenti menimbulkan gangguan pada tubuh seseorang.

Beberapa pengidap penyakit yang disebabkan oleh virus corona ini dapat mengalami masalah yang mungkin lebih parah dari beberapa gejala yang umum timbul, seperti batuk terus-menerus, demam, hingga hilangnya kemampuan untuk mengecap atau mencium bau. Meski begitu, gejala ini tidak dianggap menular kepada orang lain, hanya saja masalah yang dirasakan dapat terjadi dalam waktu yang lama. Berikut ini beberapa gejala dari long COVID-19:

 

1. Gejala yang Ringan

Seseorang yang mengidap masalah ini dapat merasakan gejala yang ringan dan juga berat. Beberapa gejala yang timbul saat mengalami gangguan yang ringan adalah kelelahan, sesak napas, nyeri otot, nyeri sendi, kehilangan ingatan dan konsentrasi, hingga depresi. 

Gangguan ini dapat menyebabkan beberapa orang kesulitan untuk menjalani aktivitas hariannya. Maka dari itu, jika kamu mengalami sesak napas dalam waktu yang lama, batuk yang sulit sembuh, hingga nyeri sendi dan otot, ada baiknya untuk memeriksakan diri agar dapat menghindari masalah yang lebih besar.

 

2. Gejala yang Lebih Parah

Hal lainnya yang harus kamu tahu adalah sekitar 10–15 persen kasus dari gejala long COVID-19 ini dapat berkembang menjadi penyakit berat di mana 5 persen menyebabkan sakit kritis. Disebutkan jika terjadi penurunan kapasitas fisik saat berolahraga dan tingkat kesehatan, yang secara signifikan lebih berisiko tinggi terhadap seseorang yang pernah mengidap SARS dalam 24 bulan terakhir.

Beberapa gangguan parah yang dapat terjadi, antara lain:

  • Jantung: Gangguan ini juga dapat berdampak buruk pada jantung yang meliputi kerusakan pada otot jantung dan gagal jantung.
  • Paru-Paru: Kamu juga dapat mengalami kerusakan jaringan paru-paru dan gagal paru restriktif disebabkan oleh virus corona yang terjadi dalam jangka panjang.
  • Otak dan sistem saraf: Masalah lainnya yang dapat terjadi pada otak dan sistem saraf adalah kehilangan indra penciuman (anosmia), masalah yang berhubungan dengan tromboemboli, seperti emboli paru, serangan jantung, dan stroke, hingga gangguan kognitif.

 

Lalu, apa yang menyebabkan beberapa orang mengalami gejala yang lebih lama?

Dikutip dari King's College London, seseorang yang mengidap penyakit ini dan dirawat di rumah sakit membutuhkan waktu beberapa bulan untuk pulih sepenuhnya. Meski begitu, semakin banyak bukti yang menunjukkan jika beberapa orang memiliki gejala yang relatif ringan dan dirawat di rumah juga bisa mengalami long COVID-19. Gangguan ini meliputi kelelahan yang luar biasa, jantung yang terus berdebar-debar, nyeri otot, hingga kesemutan.

 

Namun, hal yang perlu diketahui adalah setiap orang yang mengidap COVID-19 dapat merasakan gejala yang berbeda. Maka dari itu, kamu perlu memastikan jika gejala yang dirasakan benar berhubungan dengan long COVID-19 atau tidak dengan cara memeriksakan diri ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat.

Sumber : www.halodoc.com

Dipublikasi pada : Info Sehat
Rabu, 10 Februari 2021 00:42

Mengenal Vaksin Covid-19

Pemberian vaksin merupakan salah satu upaya yang dinilai paling efektif untuk mengatasi pandemi COVID-19 yang masih terus berlangsung. Mari ketahui apa saja manfaat vaksin COVID-19 dan siapa yang perlu lebih dulu mendapatkannya.

Vaksinasi dilaksanakan untuk melengkapi upaya pencegahan penyakit COVID-19, seperti memakai masker, mencuci tangan, juga menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

 

Manfaat Vaksin COVID-19

Vaksinasi atau imunisasi merupakan prosedur pemberian suatu antigen penyakit, biasanya berupa virus atau bakteri yang dilemahkan atau sudah mati, bisa juga hanya bagian dari virus atau bakteri. Tujuannya adalah untuk membuat sistem kekebalan tubuh mengenali dan mampu melawan saat terkena penyakit tersebut.

Sebenarnya, sistem kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit bisa terbentuk secara alami saat seseorang terinfeksi virus atau bakteri penyebabnya. Namun, infeksi virus Corona memiliki risiko kematian dan daya tular yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan cara lain untuk membentuk sistem kekebalan tubuh, yaitu vaksinasi.

Vaksin COVID-19 yang sudah tiba di Indonesia berisi virus Corona (SARS-CoV-2) yang sudah dimatikan. Dengan mendapatkan vaksin COVID-19, Anda bisa memiliki kekebalan terhadap virus Corona tanpa harus terinfeksi terlebih dahulu.

 

Ada banyak manfaat yang bisa diperoleh jika Anda mendapat vaksin COVID-19, di antaranya:

  1. Menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat COVID-19

Seperti yang disebutkan sebelumnya, vaksin COVID-19 dapat memicu sistem imunitas tubuh untuk melawan virus Corona. Dengan begitu, risiko Anda untuk terinfeksi virus ini akan jauh lebih kecil.

Kalaupun seseorang yang sudah divaksin tertular COVID-19, vaksin bisa mencegah terjadinya gejala yang berat dan komplikasi. Dengan begitu, jumlah orang yang sakit atau meninggal karena COVID-19 akan menurun.

  1. Mendorong terbentuknya herd immunity

Seseorang yang mendapatkan vaksin COVID-19 juga dapat melindungi orang-orang di sekitarnya, terutama kelompok yang sangat berisiko, seperti lansia. Hal ini karena kemungkinan orang yang sudah divaksin untuk menularkan virus Corona sangatlah kecil.

Bila diberikan secara massal, vaksin COVID-19 juga mampu mendorong terbentuknya kekebalan kelompok (herd Imunity) dalam masyarakat. Artinya, orang yang tidak bisa mendapatkan vaksin, misalnya bayi baru lahir, lansia, atau penderita kelainan sistem imun tertentu, bisa mendapatkan perlindungan dari orang-orang di sekitarnya.

Kendati demikian, untuk mencapai herd immunity dalam suatu masyarakat, penelitian menyebutkan bahwa minimal 70% penduduk dalam negara tersebut harus sudah divaksin.

  1. Meminimalkan dampak ekonomi dan sosial

Manfaat vaksin COVID-19 tidak hanya untuk sektor kesehatan, tetapi juga sektor ekonomi dan sosial. Jika sebagian besar masyarakat sudah memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik untuk melawan penyakit COVID-19, kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat bisa kembali seperti sediakala.

 

Kelompok Prioritas Penerima Vaksin COVID-19

Saat ini, jumlah vaksin yang tersedia di Indonesia masih belum cukup untuk diberikan kepada seluruh masyarakat Indonesia sekaligus. Maka dari itu, ada beberapa kelompok yang diprioritaskan untuk mendapat vaksin COVID-19 terlebih dahulu.

Berikut ini adalah beberapa kelompok yang termasuk prioritas vaksin COVID-19:

  • Tenaga kesehatan yang memiliki risiko tinggi untuk terinfeksi dan menularkan COVID-19
  • Orang dengan pekerjaan yang memiliki risiko tinggi tertular dan menularkan COVID-19 karena tidak dapat melakukan jaga jarak secara efektif, seperti anggota TNI/Polri, aparat hukum, dan petugas pelayanan publik lainnya
  • Orang yang memiliki penyakit penyerta dengan risiko kematian tinggi bila terkena COVID-19

Setelah semua kelompok prioritas di atas mendapat vaksin COVID-19, vaksinasi akan dilanjutkan ke kelompok penerima vaksin COVID-19 lainnya, mulai dari penduduk di daerah yang banyak kasus COVID-19 sampai ke seluruh pelosok Indonesia.

Dari fakta-fakta di atas, bisa kita lihat bahwa vaksin COVID-19 membawa banyak manfaat, tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga bagi banyak orang. Oleh sebab itu, meskipun banyak beredar isu-isu seputar vaksin yang belum jelas kebenarannya, Anda tidak perlu ragu atau takut untuk menjalani vaksinasi COVID-19.

Selagi menunggu vaksin COVID-19 diedarkan, Anda harus tetap menjalani protokol kesehatan dan sebisa mungkin menghindari bepergian ke luar rumah atau berkumpul dengan orang banyak.

 

https: www.alodokter.com

 

Dipublikasi pada : Warta
Rabu, 03 Februari 2021 06:08

Mengenal Donor Plasma Konvalesen

Donor plasma konvalesen belakangan sering kita dengar untuk menangani pasien covid-19 . Sebenarnya apa itu plasma konvalesen itu ?

Plasma konvalesen adalah plasma darah yang diambil dari pasien yang terdiagnosa covid-19 dan sudah 14 hari dinyatakan sembuh dari infeksi covid-19 yang ditandai dengan pemeriksaan Swab menggunakan RT-PCR sebanyak 1 kali dengan hasil negatif.

Pengambilan dan pemberian plasma konvalesen ini tidak bisa sembarangan. Sebab, pengambilan sampel plasma darah dari pasien sembuh (penyintas) Covid-19 sebagai donor, dan pasien penerima terapi plasma konvalesen itu juga akan dipilah sesuai dengan kategori dan persyaratan yang telah ditentukan.        Syarat donor plasma konvalesen Covid-19 Donor penyintas Covid-19 ini adalah mereka yang sudah pernah terinfeksi virus corona SARS-CoV-2, dan sembuh dari infeksi tersebut lebih dari 14 hari.

Donor penyintas ini nantinya akan diambil plasma darah di dalam tubuhnya dan teliti, hingga hasilnya akan diberikan kepada pasien Covid-19 yang sedang terinfeksi dengan gejala berat.

Berikut syarat untuk donor plasma darah untuk plasma konvalesen Covid-19.

  1. Berusia antara 18-60 tahun;
  2. Diutamakan laki-laki Jika perempuan, yang belum pernah hamil, karena perempuan jika telah menikah dan melahirkan perlu diperiksa anti Human Leucocyt Antigen (HLA), Human Neutrofil Antigen (HNA), dan Human Platelet Antigen (HPA).
  3. Sudah pernah terinfeksi Covid-19 (PCR positif) dan sudah dinyatakan sembuh/sehat dan dibuktikan dengan hasil laboratorium Bebas dari infeksi virus corona, atau telah sembuh minimal selama 14 hari
  4. Bebas dari virus, parasit atau patogen lain berpotensi bisa ditransmisikan melalui darah
  5. Memiliki titer antibodi yang cukup tinggi berdasarkan hasil uji netralisasi

Tidak semua pasien Covid-19 bisa menerima donor plasma. Sebab, harus disesuaikan dengan golongan darah donor dan penerima. Dan juga, terapi plasma konvalesen ini tidak diberikan begitu saja pada semua pasien Covid-19, melainkan hanya pada pasien dengan kondisi kritis.

Disadur dari : www.kompas.com, www.detik.com

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi pada : Info Sehat

Sebagai upaya antisipasi penyebaran dan penularan Covid-19, UPTD Puskesmas Oebobo melakukan Penyuluhan Keliling di kelurahan Oebob, pada Selasa, 2 Februari 2021. Penyuluhan keliling tentang covid-19 dilakukan dengan ambulans yang diberi pengeras suara untuk menjaga agar tidak terjadi kerumunan masa, serta melihat cuaca yang kurang mendukung.

 Melalui penyuluhan ini, masyarakat diberikan informasi tentang pentingnya menerapkan protokol kesehatan pencegahan covid-19 secara benar. Merujuk pada fakta bahwa covid-19 yang semakin merajalela di Kota Kupang. Berdasarkan data Pusdalops NTT 1 Februari 2021, terdapat 1410 orang di Kota Kupang yang terinfeksi covid-19. Bukan jumlah yang sedikit. Hal ini menunjukan bahwa virus corona berada di sekitar kita.

 Fransisko Darjan, SKM, tenaga Penyuluh Kesehatan Masyarakat Puskesmas Oebobo juga menginformasikan tentang akibat dari tidak menerapkan protokol kesehatan secara benar, serta gejala yang timbul apabila seseorang terpapar covid-19, yaitu :

  1. Tenggorokan gatal
  2. Tenggorokan kering
  3. Batuk kering
  4. Temperatur/suhu tubuh tinggi (lebih dari 37ᵒc )
  5. Sesak napas
  6. Kehilangan kemampuan indera penciuman/pembau

 Juga, secara singkat dipaparkan 3 (tiga) tahapan covid-19, yaitu :

  1. Covid-19 hanya di hidung - waktu pemulihan adalah setengah hari. (Menghirup uap Minyak kayu putih, minum vitamin C. Biasanya tidak ada demam, Asimtomatik.
  2. Tertular di tenggorokan - radang tenggorokan, waktu pemulihan 1 hari (kumur air panas, air hangat untuk diminum)
  3. Jika suhu tinggi maka minum parasetamol. Vitamin C, B-complex.
  4. Jika parah baru minum antibiotik (sesuai resep dokter)
  5. Timbul di paru-paru- batuk dan sesak napas 4 sampai 5 hari. (Vitamin C, B kompleks, kumur air panas, oksimeter, parasetamol, tabung oksigen bila berat, banyak cairan diperlukan, latihan pernapasan dalam).

Masyakat juga perlu tahu bahwa pH virus Corona  bervariasi dari 5,5 hingga 8,5. Sehingga, yang perlu kita lakukan untuk membasmi virus adalah mengkonsumsi lebih banyak makanan yang bersifat basa di atas tingkat keasaman virus, seperti berikut ini :

  1. Buah Pisang
  2. Lemon hijau - 9,9 Ph
  3. Lemon Kuning - pH 8,2
  4. Alpukat - 15,6 pH
  5. Bawang putih - 13,2 pH
  6. Mangga - 8,7 pH
  7. Tangerine - 8,5 pH
  8. Nanas - 12,7 pH
  9. Selada air - 22,7 pH
  10. Jeruk - 9,2 pH
Dipublikasi pada : Warta
Selasa, 08 Desember 2020 04:18

Menjaga Kesehatan di Masa Pandemi

Pandemi virus corona belum berakhir. Di sisi lain, kini sudah tiba musim penghujan. Upaya menjaga daya tahan tubuh harus terus dilaksanakan untuk mencegah terserang virus corona, sekaligus menangkal beragam penyakit yang sering datang saat musim penghujan.

Berikut ini beberapa cara untuk menjaga kesehatan di masa pendemi selama musim penghujan

1. Berjemur di bawah matahari pagi

Berjemur di bawah sinar matahari pagi baik untuk kesehatan karena tubuh mendapatkan asupan vitamin D. Untuk mendapatkan Vitamin D, kita memerlukan paparan sinar ultraviolet B yang muncul antara Pukul 09.30 - 14.30.

Untuk menjaga daya tahan tubuh, Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 merekomendasikan untuk berjemur di bawah matahari pagi selama 5-15 menit. Berjemur harus dilakukan rutin, minimal 2 sampai 3 kali seminggu.

2. Olahraga rutin

Cara menjaga daya tahan tubuh berikutnya adalah dengan berolahraga rutin. Olahraga baik untuk melepas stres sekaligus melancarkan sirkulasi darah di dalam tubuh.

Tidak perlu melakukan olahraga yang menguras tenaha karena kalau sampai terlalu lelah justru akan menurunkan imun tubuh kita. Lakukan olahraga teratur sekitar 150 menit per minggu, atau 30 menit per hari.

3. Minum air putih

Cara menjaga daya tahan tubuh berikutnya adalah dengan minum air putih sekitar 2 liter per hari. Kecukupan konsumsi air penting untuk menjaga fungsi tubuh tetap optimal.

Kekurangan minum air membuat fungsi tubuh menurun. Akibatnya, daya tahan tubuh pun rawan melemah.

4. Konsumsi vitamin

Cara menjaga daya tahan tubuh selanjutnya adalah dengan konsumsi vitamin dan suplemen. Tapi jangan sembarangan konsumsi vitamin dan suplemen.

Konsultasikan dengan dokter Anda, vitamin dan suplemen apa yang sesuai dengan kebutuhan tubuh. Biasanya, untuk menjaga daya tahan tubuh diperlukan vitamin C.

5. Pola makan

Cara menjaga daya tahan tubuh yang lainnnya adalah dengan menjaga pola makan. Konsumsilah makanan sehat dan gizi seimbang.

Ingat, malnutrisi akibat makanan tidak sehat dan tidak teratur dapat menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh. Kurangi makanan junkfood dan berlemak agar daya tahan tubuh terjaga. Perbanyak makanan yang mengandung serat.

6. Tidur cukup

Cara menjaga daya tahan tubuh selanjutnya adalah dengan istirahat cukup sekitar 7-8 jam per hari. Menjaga jam tidur merupakan cara untuk menjaga sistem imun tetap baik.

Tidur yang cukup dan pola tidur yang baik dapat menurunkan risiko stres yang dapat menurunkan imun pada tubuh. Jadi pastikan waktu tidur selalu tercukupi, kurangi begadang.

 

disadur dari : www.kesehatan.kontan.co.id

Dipublikasi pada : Info Sehat

Pasien terkonfirmasi positif Covid-19 terutama yang tanpa gejala (OTG) bisa sembuh meski hanya melakukan isolasi mandiri di dalam rumah.

Banyak pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19 yang tidak memperlihatkan menunjukkan gejala apa pun. Dalam kondisi tersebut, pasien biasanya diarahkan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah atau rumah aman.

Penyembuhan pasien terindikasi atau konfirmasi positif Covid-19 melalui isolasi mandiri di rumah dapat dilakukan dengan efektif jika pasien melakukan panduan yang mengacu pada Centers for Disease Control and Preventiton (sumsel.suara.com).

 

Tindakan yang yang harus dilakukan ketika di Rumah :

 A. Pasien :

1.  Mengukur suhu tubuh 2 kali sehari (pagi dan malam)

2.  Selalu menggunakan masker jika keluar kamar dan  insteraksi dengan orang rumah

3.  Mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun sesering mungkin.

4.  Jaga jaga dengan keluarga

5.  Upayakan kamar tidur terpisah atau sendiri

6.  Berjemur dibawah sinar matahari minimal 10-15 meni

7.  Pakaian yang dipakai sebaiknya dimasukkan di dalam kantong platik dan terpisah dengan pakaian anggota keluarga yang lain.

8.  Ukur dan catat suhu tubu tiap jam 7 pagi dan jam  7 malam.

9.  Segera berinformasi ke petugas pemantauan jika suhu mencapai 38 derajat.

 

B. Lingkungan/ Kamar:

1.  Perhatikan ventilasi, jendela dan udara

2.  Membuka jendela kamar secara berkala

3.  Menggunakan APD saat memberishkan kamar.

4.  Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun sesering mungkin

5.  Bersihkan kamar setiap hari.

 

C. Keluarga

1.  Bagi anggota keluarga yang kontak erat dengan pasien sebaiknya memeriksakan diri ke RS/Puskesmas terdeka

2.  Anggota Keluarga senantiasa memakai masker

3.  Jaga jarak minimal 1 meter dari pasien

4.  Senantiasa mencuci tangan

5.  Jangan menyentuh daerah wajah kalau tidak yakin tangan bersih

6.  Ingat membuka jendela rumah agar sirkulasi udara teratur.

7.  Bersihkan daerah yang mungkin tersentuh pasien

 

Dipublikasi pada : Info Sehat

Hari kesehatan mental setiap tahun diperingati pada tanggal 10 Oktober. Tahun ini WHO, menyerukan peningkatan besar-besaran dalam investasi kesehatan mental. Kita tidak hanya perlu menjaga kesehatan fisik, namun juga kesehatan mental. Mengingat kesehatan mental yang baik dapat membantu meningkatkan daya tahan tubuh Terlebih pada masa pandemi seperti sekarang ini.

Aturan new normal  menuntut masyarakat untuk beradaptasi dengan cepat terhadap kebiasaan baru. Kondisi tersebut diperparah dengan dampak sosial ekonomi yakni potensi terkena PHK yang membuat masyarakat risau masalah finansial, pekerjaan, dan masa depan seusai pandemi berakhir. Maka tak heran jika masyarakat mengalami gangguan mental di tengah pandemi.

Gangguan mental memiliki tanda-tanda tertentu, dan alangkah baiknya apabila kita memberi perhatian baik pada diri sendiri maupun orang di sekitar kita, sehingga kita dapat mengambil langkah yang tepat dalam memberikan pertolongan. Berikut beberapa tanda seseorang mengalami gangguan mental akibat pandemi :

  • Perubahan pola tidur
  • Gangguan pola makan.
  • Sulit berkonsentrasi. 
  • Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan. 
  • Timbulnya rasa bosan dan stres, terutama pada remaja dan anak-anak karena terus berada di rumah dan harus beradaptasi dengan kebiasaan baru. 
  • Memburuknya kesehatan fisik, khususnya bagi orang dengan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi. 
  • Rasa takut berlebihan akan keselamatan diri dan orang-orang terdekat. 
  • Muncul gangguan psikosomatik. Kecemasan dan gangguan mental ini kemudian akan menimbulkan ketidakseimbangan di otak, yang pada akhirnya timbul menjadi gangguan psikis, atau disebut juga psikosomatik. Ketika seseorang mengalami gejala psikosomatik, maka ia dapat merasakan gejala seperti penyakit covid-19, yakni merasa demam, pusing, atau sakit tenggorokan, padahal suhu tubuhnya normal.

 

Jika Anda maupun orang terdekat merasakan tanda-tanda di atas, segera lakukan beberapa langkah untuk menanganinya, antara lain:

  1. Lakukan aktivitas fisik

Pilih aktivitas fisik seperti olahraga ringan yang mampu menenangkan pikiran serta membangun mood lebih baik. Contoh yang dapat dicoba antara lain yoga, latihan pernapasan, peregangan, dan sejenisnya. Olahraga membantu tubuh memproduksi hormon endorfin untuk meredakan stres. 

  1. Tetap konsumsi makanan bergizi seimbang

Pastikan pola makan tetap dijaga secara teratur dengan asupan bergizi seimbang. Tubuh yang sehat dapat menjaga kesehatan mental secara langsung maupun tidak langsung.

  1. Jauhi kebiasaan buruk

Hindari rokok dan alkohol ketika sedang stres. Sebaliknya, tidur dan istirahat yang cukup. 

  1. Lakukan Hoby anda

Beri waktu luang untuk mengerjakan hobi atau mencoba hal baru.Anda juga disarankan membuat rutinitas favorit, seperti menonton film kesukaan atau mendengar musik untuk mengusir rasa jenuh dan meredakan stres.

  1. Bijak menerima informasi

Paparan pemberitaan mengenai pandemi secara intens dapat memicu kecemasan berlebih. Pastikan untuk mengurangi dan membatasi informasi mengenai pandemi. 

 

Selain kelima hal di atas, sangatlah penting untuk menjaga komunikasi dengan keluarga dan sahabat, terutama jika memiliki masalah untuk diceritakan.Terus menjaga hubungan dengan lingkungan, baik melalui telepon maupun video call penting untuk kesehatan jiwa Anda agar lebih tenang. 

Jika tanda-tanda semakin parah dan penanganan mandiri tidak cukup, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog maupun dokter spesialis kejiwaan.

Ayo, tetap jaga kesehatan, selalu berpikir positif dan saling mendukung dalam menghadapi masa pandemi ini!

 

Disadur dari : www.siloamhospitals.com; www.tirto.id; www.waspada.co.id

Dipublikasi pada : Info Sehat

Masker merupakan salah satu item yang sangat dibutuhkan untuk melindungi diri dari bahaya covid-19. Masker wajib dipakai saat hendak beraktivitas di luar rumah. Namun, bagi sebagian orang, sering menggunakan masker malah menimbulkan masalah pada kulit wajah berupa jerawat, yang dikenal dengan sebutan maskne.

Maskne atau mask acne merupakan jerawat yang terbentuk di area yang tertutup oleh masker, seperti dagu, hidung, atau pipi bagian bawah. Sama seperti jerawat pada umumnya, maskne dapat mengganggu penampilan dan bisa meninggalkan bekas jerawat yang menjengkelkan.

Menggunakan masker dalam jangka waktu yang lama akan membuat kulit wajah terus bergesekan dengan masker. Hal ini dapat memicu iritasi dan peradangan pada kulit. Berhubung saat ini menggunakan masker tidak bisa ditinggalkan, alhasil kulit menjadi semakin meradang dan mudah tumbuh jerawat.

Ditambah lagi, berbicara dan menghela napas saat mengenakan masker dapat menjebak hawa panas yang membuat kulit wajah menjadi berkeringat serta lembap. Kondisi ini bisa menjadi sarana yang baik bagi kuman dan bakteri untuk berkembang biak.

Selain karena masker itu sendiri, penggunaan masker yang tidak tepat juga bisa menimbulkan maskne, lho. Masker bedah yang digunakan berulang kali atau masker kain yang dicuci asal-asalan bisa menjadi tempat pertumbuhan bakteri dan kuman.

Nah, kombinasi antara iritasi, peradangan, dan berbagai kuman pada kulit merupakan ramuan yang sangat pas untuk memunculkan penyakit kulit, seperti biang keringat, eksim, dermatitis seboroik, rosacea, termasuk jerawat!

Ayo Cegah Maskne dengan Cara Ini

Kamu perlu melakukan pencegahan maskne dengan beberapa cara berikut :

1. Gunakan masker dengan bijak

Jika kamu memakai masker bedah, pastikan tidak menggunakannya berulang kali atau seharian penuh, ya. Ganti maskermu jika dirasa sudah terlalu lembap. Jadi, saat kamu sedang beraktivitas di luar rumah, sediakanlah 2–3 masker tambahan agar kamu memiliki cadangan ketika masker yang sedang dipakai sudah perlu diganti.

Rutin mengganti masker juga berlaku saat kamu menggunakan masker kain. Jangan menggunakan kembali masker yang sudah dipakai, sebelum dicuci. Cuci masker kain dengan air panas untuk membunuh kuman yang menempel pada permukaan kain.

2. Bersihkan wajah setelah menggunakan masker

Setelah seharian beraktivitas di luar rumah mengenakan masker, bersihkan wajah dengan sabun wajah yang sesuai dengan jenis kulitmu, ya. Memilih sabun wajah yang sesuai jenis kulit ini penting, karena penggunaan jenis sabun yang salah justru bisa memicu timbulnya jerawat.

Kamu juga bisa menggunakan pembersih wajah yang mengandung ceramide untuk mencegah kulit wajah teriritasi dan kering. Selain itu, kandungan ini juga bisa melindungi lapisan kulit teratas dari kerusakan. Hal ini penting untuk mencegah kulit mengalami iritasi akibat bergesekan dengan masker selama seharian.

3. Gunakan pelembap

Oleskan pelembap agar kulit wajahmu senantiasa terhidrasi dan tidak kusam. Pilihlah pelembap dengan bahan yang ringan dan tidak mengandung banyak minyak. Bila perlu, pilih produk pelembap yang menyejukkan sehingga dapat menenangkan kulit yang merah akibat tergesek masker.

4. Gunakan tabir surya

Jangan lupa juga oleskan tabir surya 15 menit sebelum kamu keluar rumah, ya. Pakailah tabir surya khusus wajah dengan kadar SPF 30 atau lebih untuk mencegah hiperpigmentasi kulit akibat sinar matahari.

Kamu juga bisa memilih tabir surya yang diperkaya dengan zinc dan titanium. Kedua kandungan ini diketahui mampu mencegah iritasi kulit wajah akibat penggunaan masker.

5. Hindari penggunaan makeup terlalu tebal

Agar tampil menawan meski menggunakan masker, kamu tetap bisa mengenakan makeup, kok. Namun, gunakanlah makeup yang ringan dan tidak terlalu tebal, ya.

Jika kamu memang sedang berjerawat, sebaiknya hindari dulu penggunaan makeup. Pasalnya, makeup dapat menyumbat pori-pori kulit dan memicu timbulnya jerawat atau membuat jerawat semakin parah.

Lakukanlah langkah-langkah yang telah dipaparkan di atas agar kulit wajahmu bebas dari maskne meskipun kamu menggunakan masker seharian. Dengan cara-cara di atas, kulit wajahmu juga akan nampak lebih bersih dan sehat, sehingga kamu bisa tampil lebih percaya diri.

Jika kamu mengalami maskne, terlebih bila sudah parah, sebaiknya konsultasikan ke dokter, ya. Jangan sembarang mengobati atau memencet jerawat karena bisa membuatnya semakin parah. Dokter akan melakukan pemeriksaan dan memberikan perawatan kulit wajah yang sesuai dengan kondisi kulitmu.

Salam Sehat (^_^)

disadur dari: www.alodokter.com

Dipublikasi pada : Info Sehat

Masker kini menjadi bagian penting dalam adaptasi new normal di tengah masyarakat. Masker dapat mengurangi risiko infeksi virus corona di tengah pandemi.

Masker membantu mengatasi penyebaran kuman dalam droplet orang yang terinfeksi saat batuk dan bersin. Masker dapat mengurangi jumlah kuman yang dilepaskan pemakainya, sekaligus melindungi seseorang dari ancaman penyakit menular.

Namun, manfaat masker menjadi tidak maksimal jika tidak dilakukan dengan benar.

Cara Menggunakan Masker yang Tepat

Masker tak bisa digunakan dengan cara yang sembarangan. Alih-alih melindungi, cara mengenakan masker yang salah justru akan mempermudah penyebaran virus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, masker akan efektif jika dikombinasikan dengan rutinitas mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol.

Berikut cara menggunakan masker yang tepat menurut WHO :

1.    Cuci tangan sebelum menggunakan masker.

  • Tutupi mulut dan hidung dengan masker. Pastikan tak ada celah antara wajah dengan masker.
  • Jangan menyentuh bagian depan masker saat menggunakannya. Jika tak sengaja menyentuh, cuci tangan untuk membersihkan kuman yang mungkin menempel.
  • Ganti masker setelah dirasa lembap. WHO merekomendasikan untuk mengganti masker setiap empat jam sekali.

2.    Cara Melepas Masker

      Sama halnya seperti memakai, melepas masker juga tak bisa dilakukan sembarangan. Berikut cara yang tepat :

  •  Cuci tangan sebelum melepas masker.
  • Jangan sentuh bagian depan masker saat melepasnya. Lepas ikatan di belakang kepala atau lepas tali karet di bagian telinga.
  • Buang masker ke tempat sampah jika Anda menggunakan masker bedah. Jika Anda menggunakan masker kain, lipat dengan cara yang tepat. Jangan sampai bagian luar bersentuhan dengan bagian dalam masker.
  • Cuci tangan dengan air dan sabun.

 

Kesalahan saat Memakai Masker

      Ada protokol yang perlu diperhatikan saat menggunakan masker. Kesalahan saat menggunakan berakibat pada penurunan efektivitas masker dan meningkatnya risiko penularan. Berikut beberapa kesalahan memakai masker yang sering menjadi kebiasaan.

Langsung pakai

        Tanpa sadar banyak orang menggunakan masker tanpa memperhatikan kondisi tangan. Padahal, tangan belum tentu aman dari kuman. Untuk memastikan tetap steril, cuci tangan dengan sabun dan air atau hand sanitizer sebelum mengenakan masker.

Menyentuh bagian depan masker

       Ada saja kalanya saat seseorang kerap menyentuh bagian depan masker. Misalnya, saat melepas masker. Menyentuh bagian depan masker berisiko membuat kuman menempel dan berpindah ke tangan. Selalu cuci tangan setiap kali tak sengaja menyentuh bagian depan masker.

Masker diturunkan ke bawah dagu atau leher

       Melepas masker dirasa terlalu merepotkan untuk kondisi-kondisi tertentu. Misalnya, saat makan. Alih-alih melepas, banyak orang memilih untuk menurunkan masker ke area dagu atau leher. Padahal, cara tersebut bukan solusi yang tepat. Cara tersebut hanya akan membuat area sekitar dagu dan leher terpapar kuman yang menempel di permukaan masker.

Hanya menutup bagian mulut

       Masker memang membuat pernapasan jadi tak nyaman. Akibatnya, banyak orang mengenakan masker hanya dengan menutup bagian mulut. Sementara bagian hidung tetap terbuka. Cara ini jelas keliru. Pasalnya, selain mulut, hidung juga menjadi salah satu pintu masuknya berbagai kuman yang bisa menimbulkan penyakit.

Melipat sembarangan

       Lipat masker dengan baik. Jangan sampai bagian luar masker menyentuh bagian dalam masker.

Memakai masker terlalu lama

       Masker yang terlalu lama akan terasa lembap dan basah. Kondisi tersebut menjadi wadah yang ideal bagi kuman berkembang biak. WHO merekomendasikan untuk mengganti masker setiap empat jam sekali atau saat masker dirasa telah basah

 

sumber dari : www.cnnindonesia.com

Dipublikasi pada : Info Sehat
Kamis, 16 Juli 2020 02:09

New Normal, Berdamai dengan Covid-19

New normal atau adaptasi kebiasaan baru adalah langkah percepatan penanganan Covid-19 dalam bidang kesehatan, sosial dan ekonomi. 

Masyarakat hidup “berdampingan“ dengan Covid-19 sambil menjalani aktifias seperti biasa. Namun, tetap ada batasan-batasannya dengan mematuhi protokol pencegahan    Covid-19, seperti :

  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau dengan hand sanitizer
  • Tidak menyentuh wajah dengan tangan yang belum dicuci
  • Menerapkan physical distancing (jaga jarak)
  • Mengenakan masker dalam setiap aktifitas terutama di tempat umum

 

Protokol kesehatan di masa New Normal menurut Kementrian Kesehatan dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19  :

  1. Cuci tangan pakai sabun dan air mengalir selama 20 detik atau dengan hand sanitizer
  2. Hindari menyentuh wajah (area mata, hidung, mulut) sebelum mencuci tangan
  3. Ketika batuk dan bersin harus menutup mulut dan hidung menggunakan lengan atas bagian dalam
  4. Gunakan masker ketika beraktifitas terutama di tempat umum
  5. Jaga jarak dengan orang lain 1,5-2 Meter dan hindari kerumunan.
  6. Jika sakit sebaiknya tetap di dalam rumah (isolasi mandiri)
  7. Selama berada di dalam ataupun di luar rumah pastikan kesehatan tetap terjaga dengan cara konsumsi makanan bergizi seimbang, olah raga dan istirahat yang cukup.

 

Protokol Kesehatan New Normal di pasar:

  1. Semua pedagang dan pengelola pasar wajib bebas Covid-19 melalui rapid test/tes PCR oleh pemda
  2. Jaga jarak antar pedagang minimal 1,5 meter
  3. Sebelum pasar dibuka dilakukan ukur suhu tubuh pedagang dan pengelola pasar (<37,50 C)
  4. Melarang masuk orang dengan batuk, flu dan sesak napas\
  5. Wajib gunakan masker dan jaga jarak antrean serta kontrol suhu tubuh pengunjung (<37,50 C)
  6. Di area pasar disediakan tempat cuci tangan, sabun dan hand sanitizer serta melakukan penyemprotan desinfektan di ruangan atau lokasi pasar setiap dua hari sekali
  7. Menjaga kesbersihan lokasi berjualan
  8. Mencegah kerumunan dalam pasar dengan memperhatikan pengaturan waktu kunjungan
  9. Pengaturan waktu pasokan barang dari dan keluar pasar
  10. Mengoptimalkan ruang terbuka outdoor untuk menjga jarak antar pedagang.

 

Protokol Kesehatan New Normal di Mall :

  1. Wajib gunakan masker
  2. Karyawan yang bertugas harus sehat
  3. Melakukan pemeriksaan suhu tubuh
  4. Tidak berdesakan
  5. Menerapkan jaga jarak
  6. Mengutamakan pembayaran digital
  7. Sterilisasi fasilitas yang rawan penularan virus (area yang disentuh pengunjung) dengan penyemprotan desinfektan sesering mungkin.

 

Protokol Kesehatan New Normal di tempat kerja :

  1. Pengukuran suhu tubuh pekerja
  2. Pengaturan jam kerja
  3. Pembagian shift pekerja
  4. Penggunaan masker selama bekerja
  5. Menyediakan asupan nutrisi untuk mendukung daya tahan tubuh pekerja
  6. Memfasilitasi lokasi kerja bersih dan higienis
  7. Menyiapkan sarana cuci tangan
  8. Membentuk tim Covid-19
  9. Memastikan pekerja hidup bersih dan sehat sesuai dengan protokol kesehatan yang disarankan.

Oleh : Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas Oebobo Tahun 2020

Dipublikasi pada : Info Sehat
Halaman 1 dari 2