Reni Tangmau

Reni Tangmau

Staf Administrasi pada UPT Puskesmas Oebobo

Website URL: http://puskesmasoebobo@yahoo.com   |   Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Mengenal Hipertiroid

Selasa, 15 September 2020 01:05

Penyakit hipertiroidisme atau hipertiroid adalah penyakit akibat kadar hormon tiroid terlalu tinggi di dalam tubuh. Kondisi kelebihan hormon tiroid ini dapat menimbulkan gejala jantung berdebar, tangan gemetar, dan berat badan turun drastis.

Kelenjar tiroid terletak di bagian depan leher dan berperan sebagai penghasil hormon tiroid. Hormon ini berfungsi untuk mengendalikan proses metabolisme, seperti mengubah makanan menjadi energi, mengatur suhu tubuh, dan mengatur denyut jantung.

Kerja dari kelenjar tiroid juga dipengaruhi oleh kelenjar di otak yang dinamakan kelenjar pituitari atau kelenjar hipofisis. Kelenjar hipofisis akan menghasilkan hormon yang dinamakan TSH dalam mengatur kelenjar tiroid untuk menghasilkan hormon tiroid.

Ketika kadar hormon tiroid dalam tubuh terlalu tinggi, maka proses metabolisme akan berlangsung semakin cepat dan memicu berbagai gejala. Penanganan perlu segera dilakukan untuk mencegah memburuknya gejala hyperthyroidism atau hipertiroid yang muncul.

Tanda dan Gejala Hipertiroidisme

Gejala yang ditimbulkan oleh hipertiroidisme terjadi akibat metabolisme tubuh berlangsung lebih cepat. Gejala ini dapat dirasakan secara perlahan maupun mendadak. Gejala yang muncul antara lain:

  • Jantung berdebar
  • Tremor atau gemetar di bagian tangan
  • Mudah merasa gerah dan berkeringat
  • Gelisah
  • Mudah marah
  • Berat badan turun drastis
  • Sulit tidur
  • Konsentrasi menurun
  • Diare
  • Penglihatan kabur
  • Rambut rontok
  • Gangguan menstruasi pada wanita

Selain gejala yang dapat dirasakan oleh penderita, ada beberapa tanda-tanda fisik yang dapat ditemukan pada penderita hipertiroidisme. Tanda tersebut meliputi:

  • Pembesaran kelenjar tiroid atau penyakit gondok
  • Bola mata terlihat sangat menonjol
  • Muncul ruam kulit atau biduran
  • Telapak tangan kemerahan
  • Tekanan darah meningkat

Selain itu, terdapat jenis hipertirodisme yang tidak menimbulkan gejala. Gangguan ini disebut hipertiroid subklinis. Kondisi ini ditandai dengan meningkatnya TSH tanpa disertai dengan hormon tiroid. Setengah penderitanya akan kembali normal tanpa pengobatan khusus.

Kapan harus ke dokter

Segera periksakan diri ke dokter jika mengalami gejala hipertiroidisme. Langkah diagnosis perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab dan mendapatkan pengobatan.

Konsultasikan dengan dokter secara rutin jika sedang atau baru saja menjalani pengobatan hipertiroidisme. Dokter akan memantau perkembangan penyakit dan respons tubuh terhadap pengobatan.

Hipertiroid dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya untuk penderitanya, yaitu krisis tiroid atau thyroid storm. Segeralah ke IGD jika muncul gejala hipertiroidisme yang disertai dengan demam, diare, hingga penurunan kesadaran, baik selama maupun setelah menjalani pengobatan hipertiroidisme.

Penyebab Hipertiroidisme

Gangguan yang dapat menyebabkan hipertiroid bermacam-macam, mulai dari penyakit autoimun hingga efek samping obat. Berikut ini adalah berbagai penyebab penyakit dan kondisi yang bisa menyebabkan hipertiroidisme:

  • Penyakit Graves akibat autoimun atau kekebalan tubuh sendiri yang menyerang sel normal.
  • Peradangan kelenjar tiroid atau tiroiditis.
  • Benjolan, seperti toxic nodular tiroid, atau tumor jinak di kelenjar tiroid atau kelenjar pituitari (hipofisis).
  • Kanker tiroid.
  • Tumor di testis atau ovarium.
  • Konsumsi obat dengan kandungan iodium tinggi, misalnya amiodarone.
  • Penggunaan cairan kontras dengan kandungan iodium dalam tes pemindaian.
  • Terlalu banyak konsumsi makanan yang mengandung iodium tinggi, seperti makanan laut, produk susu, dan telur.

Selain beberapa penyebab di atas, ada faktor-faktor lain yang dapat meningkatkan risiko seseorang terkena hipertiroidisme. Faktor risiko tersebut meliputi:

  • Berjenis kelamin wanita.
  • Memiliki anggota keluarga yang menderita penyakit Graves.
  • Menderita penyakit kronis, seperti diabetes tipe 1, anemia, atau gangguan kelenjar adrenal.

 

Hipertiroidisme pada kehamilan

Hyperthyroidism atau hipertiroidisme juga dapat terjadi selama masa kehamilan. Selama masa kehamilan, tubuh menghasilkan hormon alami yang dikenal dengan HCG (human chorionic gonadotropin). Kadar hormon ini akan semakin meningkat, terutama pada usia kehamilan 12 minggu.

Tingginya hormon HCG dalam tubuh dapat merangsang kelenjar tiroid untuk menghasilkan lebih banyak hormon tiroid, sehingga memicu munculnya gejala hipertiroidisme. Hipertiroidisme juga rentan terjadi pada kehamilan kembar dan pada kasus hamil anggur.

Diagnosis Hipertiroidisme

Dalam mendiagnosis hipertiroid, dokter akan menanyakan gejala yang dialami penderita dan melakukan pemeriksaan fisik untuk mendeteksi tanda hipertiroidisme, seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Jika dokter telah melihat tanda hipertiroidisme, tes darah akan dilakukan untuk mengukur kadar hormon pemicu tiroid (TSH) dan hormon tiroid dalam darah. Tes darah juga dilakukan untuk mengukur tingginya kadar kolesterol dan gula dalam darah, yang dapat menjadi tanda gangguan metabolisme akibat hipertiroidisme.

Dokter juga akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk mendeteksi penyebab hipertiroidisme. Beberapa jenis pemeriksaan lanjutan yang dilakukan adalah:

  • USG tiroid, untuk memeriksa kondisi kelenjar tiroid dan mendeteksi adanya benjolan atau tumor di kelenjar tersebut.
  • Thyroid scan (nuklir tiroid), untuk memindai kondisi kelenjar tiroid dengan kamera khusus dengan sebelumnya menyuntikan zat radioaktif ke dalam pembuluh darah.
  • Tes iodium radioaktif, sama seperti thyroid scan yaitu untuk memindai kelenjar tiroid dengan sebelumnya pasien diminta menelan zat radioaktif mengandung iodium dosis rendah.

Pengobatan Hipertirodisme

Pengobatan hipertiroid bertujuan untuk mengembalikan kadar normal hormon tiroid, sekaligus mengatasi penyebabnya. Jenis pengobatan yang diberikan juga berdasarkan tingkat keparahan gejala, serta usia dan kondisi penderita secara keseluruhan. Berikut ini beberapa cara mengobati dan mengatasi hipertiroidisme:

Obat-obatan

Pemberian obat bertujuan untuk menghambat atau menghentikan fungsi kelenjar tiroid dalam menghasilkan hormon berlebih dalam tubuh. Jenis obat yang digunakan adalah methimazole, carbimazole dan propylthiouracil. Dokter juga akan memberikan obat yang dapat menurunkan detak jantung untuk mengurangi gejala jantung berdebar.

Dokter akan menurunkan dosis obat apabila kadar hormon tiroid dalam tubuh telah kembali normal, biasanya 1-2 bulan setelah mulai kosumsi obat. Diskusikan dengan dokter endokrin mengenai lamanya penggunaan obat.

Terapi iodium radioaktif

Terapi iodium radioaktif bertujuan untuk menyusutkan kelenjar tiroid, sehingga mengurangi jumlah hormon tiroid yang dihasilkan. Penderita akan diberikan cairan atau kapsul yang mengandung zat radioaktif dan iodium dosis rendah, yang kemudian akan diserap oleh kelenjar tiroid. Terapi iodium radioaktif berlangsung selama beberapa minggu atau bulan.

Meski dosis yang diberikan rendah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan penderita setelah menjalani pengobatan hipertiroid ini, di antaranya:

  • Hindari kontak dengan anak-anak dan ibu hamil selama beberapa hari atau minggu untuk mencegah penyebaran radiasi.
  • Tidak dianjurkan untuk hamil setidaknya selama enam bulan setelah pengobatan.

Operasi

Operasi pengangkatan kelenjar tiroid atau tiroidektomi dilakukan pada beberapa kondisi sebagai berikut:

  • Pemberian obat dan terapi iodium radioaktif tidak efektif untuk mengatasi hipertiroidisme.
  • Pembengkakan yang terjadi pada kelenjar tiroid cukup parah.
  • Kondisi penderita tidak memungkinkan untuk menjalani pengobatan dengan obat-obatan atau terapi iodium radioaktif, misalnya sedang hamil atau menyusui.
  • Penderita mengalami gangguan penglihatan yang cukup parah.

Prosedur tiroidektomi dapat bersifat total atau sebagian, tergantung kondisi penderita. Namun, sebagian besar tiroidektomi dilakukan dengan mengangkat seluruh kelenjar tiroid untuk mencegah risiko hipertiroidisme kambuh atau muncul kembali.

Penderita yang menjalani operasi pengangkatan kelenjar tiroid total dan terapi radioaktif iodium dapat mengalami hipotiroidisme. Kondisi ini dapat diatasi dengan mengonsumsi obat berisi hormon tiroid. Akan tetapi, konsumsi obat ini mungkin perlu dilakukan seumur hidup.

 

Komplikasi Hipertiroidisme

Hipertiroidisme dapat menyebabkan komplikasi jika penanganan tidak segera dilakukan. Beberapa komplikasi yang dapat terjadi adalah:

Bahaya penyakit hipertiroid saat kehamilan

Penanganan hipertiroidisme selama kehamilan perlu segera dilakukan untuk mencegah komplikasi yang dapat membahayakan ibu hamil dan bayi yang dikandungnya. Beberapa komplikasi hipertiroid pada kehamilan yang dapat terjadi:

Pencegahan Hipertiroidisme

Cara terbaik untuk mencegah hipertiroidisme adalah dengan menghindari kondisi yang dapat meningkatkan risiko Anda terkena penyakit ini. Sebagai contoh bila Anda menderita penyakit diabetes tipe 1 yang berisiko menimbulkan hipertiroid, Anda perlu untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

Selain mencegah hipertiroidisme muncul, pencegahan agar gejala yang timbul menjadi tidak lebih buruk juga tidak kalah penting. Ada beberapa pola hidup sehat yang dapat dilakukan untuk mengendalikan gejala dari hipertiroidisme, yaitu:

sumber : www.alodokter.com

New normal atau adaptasi kebiasaan baru adalah langkah percepatan penanganan covid-19 dalam bidang kesehatan, sosial dan ekonomi.

Masyarakat hidup “berdampingan” dengan covid-19 sambil menjalani aktifitas seperti biasa dengan tetap menerapkan protokol kesehatan pencegahan covid-19.

Kegiatan-kegiatan pelayanan yang melibatkan masyarakat sebagai sasaran kembali dilakukan setelah sempat dihentikan pelaksanaannya selama beberapa bulan ini karena pandemik covid-19.

Salah satu kegiatan itu adalah pelayanan posyandu balita. Puskesmas Oebobo bersama kader posyandu kembali melakukan pelayanan dengan memperhatikan protokol pencegahan covid-19 seperti cuci tangan dengan sabun dan air mengalir/hand sanitizer, memakai masker, menerapkan physical distancing/jaga jarak, mengukur suhu tubuh pengunjung, mencegah kerumunan, melakukan skrining jika didapati ada gejala flu, demam, batuk pilek, diare/muntah dirujuk ke puskesmas. Sarung timbang dibawa oleh orang tua masing-masing bayi/balita.

 

 Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum memasuki posyandu merupakan protokol yang harus dilaksanakan, baik oleh petugas maupun masyarakat

 

Pelaksanaan prokol kesehatan di posyandu antara lain memakai masker, menerapkan physical distancing/jaga jarak,

mengukur suhu tubuh pengunjung,melakukan skrining jika didapati ada gejala flu, demam, batuk pilek, diare/muntah

 

Kegiatan yang dilakukan antara lain penimbangan berat badan, pengukuran panjang badan/tinggi badan, pembagian vitamin A dan obat cacing, imunisasi, pemeriksaan ibu hamil dan pelayanan KB.

Selain itu para orang tua balita pun diberikan penyuluhan terkait pelaksanaan posyandu balita new normal dan protokol kesehatan yang harus dipatuhi. Dengan adanya penyuluhan tersebut diharapkan tingkat kesadaran masyarakat meningkat untuk tetap melaksanakan kebiasaan baru sesuai protocol kesehatan pencegahan covid-19.

Oleh : Penanggung Jawab Promkes UPTD Puskesmas Oebobo Afiani Kinle'e, SKM

Imunisasi merupakan proses untuk membuat seseorang menjadi imun atau kebal terhadap suatu penyakit. Proses ini dilakukan dengan pemberian vaksin yang merangsang sistem kekebalan tubuh agar kebal terhadap penyakit tersebut.

 

Imunisasi BIAS adalah Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS), merupakan kegiatan pemberian Imunisasi rutin lanjutan bagi anak usia sekolah Kelas 1, 2, dan 5 SD/MI sederajat.

 

BIAS dilaksanakan setiap tahun pada Bulan Agustus dan November. Pada Bulan Agustus dilakukan Imunisasi Campak Rubella, dan pada Bulan November akan dilakukan Imunisasi Difteri Tetanus (DT) dan Tetanus (Td).

 

Bidan Ika Yati Ningsih, Amd. Keb dan Bidan Imelda Papaseda, Amd. Keb sedang memberikan Imunisasi pada peserta didik di SDI Oetete 3

 

UPTD Puskesmas Oebobo melakukan BIAS di Sekolah di Kelurahan Oebobo, Kelurahan Fatululi dan Kelurahan Oetete, yaitu di Kelurahan Oebobo di SD Pelita Hidup dan SD Kasih Yobel, Fatululi di SD Dian Harapan, SDN Oebobo 1, SD GMIT Oebobo, SDI Bertingkat Oebobo, SDN Oebobo 2, dan SDI Oebobo 1, dan Oetete di SDN Oetete 1, SDN Oetete 2 dan SDI Oetete 3. Pelaksanaan BIAS terintegrasi dengan kegiatan Penjaringan peserta didik dan dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan.

Program imunisasi BIAS ini dilakukan untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak usia SD terhadap penyakit campak, difteri dan tetanus. Para guru dan orang tua perlu memberikan dukungan jika anaknya mendapat imunisasi di sekolah oleh petugas kesehatan dari Puskesmas.

 

Dukungan orang tua sangat penting ketika anaknya mendapatkan Imunisasi,

pada gambar tampak Bidan Maria Lada, Amd,Keb dan Bidan Maria A. ndolu Eoh, SST memberikan Imunisasi pada peserta didik

di SD GMIT Oebobo dan SDI Oetete 2

 

Petugas sedang memberikan Imunisasi pada peserta didik di SD Dian Harapan

 

Terdapat 3 imunisasi wajib berulang yang akan diberikan pada saat BIAS, yaitu : Imunisasi campak rubella, pentingnya pemberian imunisasi measles rubella (MR) untuk menghindarkan anak dari risiko cacat hingga kematian. Imunisasi difteri tetanus (DT) biasanya pemberian imunisasi difteri tetanus (DT) juga diberikan secara berulang pada anak sekolah kelas 1 SD. Selanjutnya, imunisasi DT juga dapat diberikan lagi saat anak berusia 12 tahun. Imunisasi ini sangat penting diberikan karena difteri merupakan penyakit infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir pada hidung serta tenggorokan. 

Imunisasi tetanus (Td) Vaksin TD (tetanus dan difteri) merupakan vaksin lanjutan dan diberikan sebagai dosis keenam dan ketujuh pada anak yang sebelumnya rutin menerima vaksin DPT atau DPT/Hib. Pemberiannya dilakukan ketika anak berusia 10–12 tahun dan 18 tahun.

Mengenal Penyakit Cacing dan Gejalanya

Selasa, 11 Agustus 2020 02:26

Anak kecil seringkali memasukkan benda asing yang baru mereka lihat ke dalam mulutnya, tak terkecuali tanah atau benda lain saat ia bermain. Padahal, tanah atau benda kotor yang masuk ke mulut bisa saja mengandung larva cacing penyebab cacingan. Nah, sebagai seorang Ibu, sudahkah Anda tahu bagaimana tanda jika si kecil terserang penyakit cacingan?

Penyakit cacingan atau ascariasis adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh cacing gelang—parasit yang menggunakan usus manusia sebagai inangnya. Telur atau larva cacing gelang berasal di permukaan tanah dan dapat berpindah ke tubuh si kecil jika setelah bermain atau beraktivitas di luar rumah, si kecil makan tanpa mencuci tangan dengan baik. Selain berpindah melalui tangan, Ibu juga perlu waspada: larva cacing juga dapat masuk ke tubuh manusia melalui konsumsi sayuran atau buah-buahan yang tidak dicuci bersih.

 

Faktor pemicu penyakit cacingan

Askariasis atau penyakit cacingan lebih rentan menyerang seseorang dengan faktor risiko berikut:

  • Usia. Penyakit cacingan seringnya dialami anak berusia 10 tahun atau kurang. Anak-anak di kelompok usia ini rentan menderita penyakit cacingan karena mereka kerap bermain di tanah.
  • Daerah bersuhu hangat. Prevalensi penyakit cacingan cenderung lebih sering terjadi di negara-negara berkembang yang memiliki suhu hangat sepanjang tahun.
  • Daerah dengan sanitasi buruk. Penyakit cacingan berisiko tinggi dialami mereka yang tinggal di negara berkembang atau daerah dengan sanitasi buruk.

 

Apa gejala penyakit cacingan?

Anak yang terinfeksi cacing biasanya tidak merasakan tanda atau gejala yang spesifik. Meski begitu, beberapa mungkin dapat merasakan gejala ringan seperti rasa tidak nyaman di perut. Gejala yang dirasakan berbeda-beda, bergantung pada organ atau bagian tubuh yang terinfeksi cacing, yaitu:

  • Di paru-paru: batuk berkepanjangan, sesak napas, bersin-bersin
  • Di usus: nyeri di perut, mual, muntah, diare atau BAB berdarah

Gejala tersebut jika tidak ditangani dengan segera dapat memicu gejala lain yang lebih parah, seperti nyeri perut yang berat hingga kekurangan gizi (malnutrisi).

 

Jika Ibu khawatir si kecil mengidap infeksi cacing, bawalah anak ke dokter atau Puskesmas terdekat untuk mendapatkan pelayanan.

sumber: www.combantrin.co.id

Bulan Vitamin A kembali hadir di Bulan Agustus, sepanjang bulan ini UPTD Puskesmas Oebobo melakukan pemberian Vitamin A secara GRATIS bagi bayi dan balita di Kelurahan Oebobo, Fatululi dan Oetete.

Kegiatan Pemberian Vitamin A terintegrasi dengan Pemberian Obat Cacing, dilaksanakan di Puskesmas Oebobo dan Pustu Fatululi dengan mengedepankan protokol kesehatan.

 

Nutrisionis Merly S. Rihi Pake, Amd.Gz sedang Memberikan Vitamin A pada Balita di Puskesmas Oebobo

 

Vitamin A kapsul berwarna biru dengan dosis 100.000 IU diberikan kepada bayi berusia 6-11 bulan, dan kapsul berwarna merah dengan dosis 200.000 IU diberikan untuk balita usia 12-59 bulan dan Ibu Nifas.

Kekurangan vitamin A akan melemahkan sistem imun dan produksi sel darah merah (hematopoiesis), menyebabkan ruam kulit, dan gangguan penglihatan (contohnya xerophthalmia, rabun malam).

Kecukupan asupan vitamin A dapat diperoleh dari beragam makanan dan minuman yang dikonsumsi sehari-hari. Makanan sumber Vitamin A sebagian besar berasal dari produk hewani seperti daging, telur, susu dan hati, namun beberapa produk nabati juga mengandung Vitamin A terutama sayur-sayuran berwarna seperti wortel, bayam, kol, brokoli, semangka, melon, pepaya, mangga, tomat dan kacang polong.

Salah satu sumber Vitamin A yang dapat mencukupi kebutuhan tubuh khususnya pada bayi dan Balita yaitu suplementasi Vitamin A melalui pemberian kapsul Vitamin A. Pemberian vitamin A diiringi dengan pemberian obat cacing agar penyerapan zat gizi pada balita sempurna dan dapat  meningkatkan status gizi masyarakat.

Kecacingan pada anak akan menimbulkan masalah kesehatan berupa kekurangan gizi yang bersifat kronis  yang pada akhirnya juga dapat meningkatkan risiko kesakitan dan kematian pada anak. Pemberian obat cacing ini mengikuti dosis, usia 12 - 23 bulan setengah tablet, dan usia 24 bulan s/d 12 tahun satu tablet.

Perawat Sri Herlin Ernawati, S.Kep, Ns sedang memberikan obat cacing pada anak di Puskesmas Oebobo

Masker kini menjadi bagian penting dalam adaptasi new normal di tengah masyarakat. Masker dapat mengurangi risiko infeksi virus corona di tengah pandemi.

Masker membantu mengatasi penyebaran kuman dalam droplet orang yang terinfeksi saat batuk dan bersin. Masker dapat mengurangi jumlah kuman yang dilepaskan pemakainya, sekaligus melindungi seseorang dari ancaman penyakit menular.

Namun, manfaat masker menjadi tidak maksimal jika tidak dilakukan dengan benar.

Cara Menggunakan Masker yang Tepat

Masker tak bisa digunakan dengan cara yang sembarangan. Alih-alih melindungi, cara mengenakan masker yang salah justru akan mempermudah penyebaran virus.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, masker akan efektif jika dikombinasikan dengan rutinitas mencuci tangan dengan air dan sabun atau hand sanitizer yang mengandung alkohol.

Berikut cara menggunakan masker yang tepat menurut WHO :

1.    Cuci tangan sebelum menggunakan masker.

  • Tutupi mulut dan hidung dengan masker. Pastikan tak ada celah antara wajah dengan masker.
  • Jangan menyentuh bagian depan masker saat menggunakannya. Jika tak sengaja menyentuh, cuci tangan untuk membersihkan kuman yang mungkin menempel.
  • Ganti masker setelah dirasa lembap. WHO merekomendasikan untuk mengganti masker setiap empat jam sekali.

2.    Cara Melepas Masker

      Sama halnya seperti memakai, melepas masker juga tak bisa dilakukan sembarangan. Berikut cara yang tepat :

  •  Cuci tangan sebelum melepas masker.
  • Jangan sentuh bagian depan masker saat melepasnya. Lepas ikatan di belakang kepala atau lepas tali karet di bagian telinga.
  • Buang masker ke tempat sampah jika Anda menggunakan masker bedah. Jika Anda menggunakan masker kain, lipat dengan cara yang tepat. Jangan sampai bagian luar bersentuhan dengan bagian dalam masker.
  • Cuci tangan dengan air dan sabun.

 

Kesalahan saat Memakai Masker

      Ada protokol yang perlu diperhatikan saat menggunakan masker. Kesalahan saat menggunakan berakibat pada penurunan efektivitas masker dan meningkatnya risiko penularan. Berikut beberapa kesalahan memakai masker yang sering menjadi kebiasaan.

Langsung pakai

        Tanpa sadar banyak orang menggunakan masker tanpa memperhatikan kondisi tangan. Padahal, tangan belum tentu aman dari kuman. Untuk memastikan tetap steril, cuci tangan dengan sabun dan air atau hand sanitizer sebelum mengenakan masker.

Menyentuh bagian depan masker

       Ada saja kalanya saat seseorang kerap menyentuh bagian depan masker. Misalnya, saat melepas masker. Menyentuh bagian depan masker berisiko membuat kuman menempel dan berpindah ke tangan. Selalu cuci tangan setiap kali tak sengaja menyentuh bagian depan masker.

Masker diturunkan ke bawah dagu atau leher

       Melepas masker dirasa terlalu merepotkan untuk kondisi-kondisi tertentu. Misalnya, saat makan. Alih-alih melepas, banyak orang memilih untuk menurunkan masker ke area dagu atau leher. Padahal, cara tersebut bukan solusi yang tepat. Cara tersebut hanya akan membuat area sekitar dagu dan leher terpapar kuman yang menempel di permukaan masker.

Hanya menutup bagian mulut

       Masker memang membuat pernapasan jadi tak nyaman. Akibatnya, banyak orang mengenakan masker hanya dengan menutup bagian mulut. Sementara bagian hidung tetap terbuka. Cara ini jelas keliru. Pasalnya, selain mulut, hidung juga menjadi salah satu pintu masuknya berbagai kuman yang bisa menimbulkan penyakit.

Melipat sembarangan

       Lipat masker dengan baik. Jangan sampai bagian luar masker menyentuh bagian dalam masker.

Memakai masker terlalu lama

       Masker yang terlalu lama akan terasa lembap dan basah. Kondisi tersebut menjadi wadah yang ideal bagi kuman berkembang biak. WHO merekomendasikan untuk mengganti masker setiap empat jam sekali atau saat masker dirasa telah basah

 

sumber dari : www.cnnindonesia.com

Posyandu merupakan salah satu bentuk upaya kesehatan bersama dengan masyarakat yang dikelola dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat, guna memberdayakan masyarakat dalam penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) serta memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan dasar.

Posyandu dapat digolongkan menjadi 4 strata, yaitu Posyandu Pratama, Posyandu Madya, Posyandu Purnama, dan Posyandu Mandiri.

Posyandu menjadi perpanjangan tangan Puskesmas dalam memberikan pelayanan dan pemantauan kesehatan yang dilaksanakan secara terpadu. UPTD Puskesmas Oebobo memfasilitasi pemberian pelayanan kesehatan di posyandu di wilayah kerja UPTD Puskesmas Oebobo, yaitu Posyandu Kelurahan Oebobo, Kelurahan Oetete dan Fatululi.     

Penilaian Posyandu Balita Tingkat Kota Kupang Tahun 2020 di Kelurahan Fatululi dilaksanakan  pada hari Selasa, 14 Juli 2020. Kegiatan dilaksanakan di 3 Posyandu, yaitu Posyandu Apel dengan strata Purnama, Posyandu Lagundi dengan strata Madya dan Posyandu Melati dengan strata Mandiri.

 

Pose Bersama Kader Posyandu Apel, UPTD Puskesmas Oebobo, dan Dinkes Kota Kupang

 

Pose Bersama Kader Posyandu Lagundi, UPTD Puskesmas Oebobo, dan Dinkes Kota Kupang

 

Dengan Tim Penilai dari TP PKK Kota Kupang dan Dinas Kesehatan Kota Kupang (Seksi Promosi Kesehatan). Kegiatan tersebut juga dihadiri oleh Lurah sebagai Pembina posyandu balita di Kelurahan Fatululi.

Penilaian posyandu balita dimulai dari menilai kelengkapan administrasi posyandu seperti SK Pengurus Posyandu dan buku administrasi kegiatan posyandu, setelah itu dilanjutkan dengan cakupan kegiatan dan hasilnya. Penilaian dilakukan dengan metode wawancara dan observasi oleh tim penilai.

 

Proses Penilaian Kelengkapan Administrasi Posyandu Melati oleh Tim Penilai dari TP PKK Kota Kupang

 

Proses Penilaian Kelengkapan Administrasi Posyandu Apel oleh Tim Penilai dari Dinkes Kota Kupang

 

Proses Penilaian Kelengkapan Administrasi Posyandu Lagundi oleh Tim Penilai dari Dinkes Kota Kupang

 

Afiani S. Kinle’e SKM selaku Penanggung Jawab Promkes UPTD Puskesmas Oebobo menuturkan bahwa “kegiatan Penilaian Posyandu Balita ini dilakukan untuk mengukur sejauh mana fungsi vital Posyandu sudah dijalankan dan capain hasilnya. Posyandu merupakan ujung tombak dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak yang mencakup lima fungsi pelayanan, yakni pemantauan pertumbuhan, penyuluhan gizi dan kesehatan, imunisasi, pelayanan KB dan pelayanan kesehatan dasar. Selain itu penilaian ini juga dilakukan untuk persiapan lomba posyandu balita Tingkat Provinsi NTT”.

 

New Normal, Berdamai dengan Covid-19

Kamis, 16 Juli 2020 02:09

New normal atau adaptasi kebiasaan baru adalah langkah percepatan penanganan Covid-19 dalam bidang kesehatan, sosial dan ekonomi. 

Masyarakat hidup “berdampingan“ dengan Covid-19 sambil menjalani aktifias seperti biasa. Namun, tetap ada batasan-batasannya dengan mematuhi protokol pencegahan    Covid-19, seperti :

  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau dengan hand sanitizer
  • Tidak menyentuh wajah dengan tangan yang belum dicuci
  • Menerapkan physical distancing (jaga jarak)
  • Mengenakan masker dalam setiap aktifitas terutama di tempat umum

 

Protokol kesehatan di masa New Normal menurut Kementrian Kesehatan dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19  :

  1. Cuci tangan pakai sabun dan air mengalir selama 20 detik atau dengan hand sanitizer
  2. Hindari menyentuh wajah (area mata, hidung, mulut) sebelum mencuci tangan
  3. Ketika batuk dan bersin harus menutup mulut dan hidung menggunakan lengan atas bagian dalam
  4. Gunakan masker ketika beraktifitas terutama di tempat umum
  5. Jaga jarak dengan orang lain 1,5-2 Meter dan hindari kerumunan.
  6. Jika sakit sebaiknya tetap di dalam rumah (isolasi mandiri)
  7. Selama berada di dalam ataupun di luar rumah pastikan kesehatan tetap terjaga dengan cara konsumsi makanan bergizi seimbang, olah raga dan istirahat yang cukup.

 

Protokol Kesehatan New Normal di pasar:

  1. Semua pedagang dan pengelola pasar wajib bebas Covid-19 melalui rapid test/tes PCR oleh pemda
  2. Jaga jarak antar pedagang minimal 1,5 meter
  3. Sebelum pasar dibuka dilakukan ukur suhu tubuh pedagang dan pengelola pasar (<37,50 C)
  4. Melarang masuk orang dengan batuk, flu dan sesak napas\
  5. Wajib gunakan masker dan jaga jarak antrean serta kontrol suhu tubuh pengunjung (<37,50 C)
  6. Di area pasar disediakan tempat cuci tangan, sabun dan hand sanitizer serta melakukan penyemprotan desinfektan di ruangan atau lokasi pasar setiap dua hari sekali
  7. Menjaga kesbersihan lokasi berjualan
  8. Mencegah kerumunan dalam pasar dengan memperhatikan pengaturan waktu kunjungan
  9. Pengaturan waktu pasokan barang dari dan keluar pasar
  10. Mengoptimalkan ruang terbuka outdoor untuk menjga jarak antar pedagang.

 

Protokol Kesehatan New Normal di Mall :

  1. Wajib gunakan masker
  2. Karyawan yang bertugas harus sehat
  3. Melakukan pemeriksaan suhu tubuh
  4. Tidak berdesakan
  5. Menerapkan jaga jarak
  6. Mengutamakan pembayaran digital
  7. Sterilisasi fasilitas yang rawan penularan virus (area yang disentuh pengunjung) dengan penyemprotan desinfektan sesering mungkin.

 

Protokol Kesehatan New Normal di tempat kerja :

  1. Pengukuran suhu tubuh pekerja
  2. Pengaturan jam kerja
  3. Pembagian shift pekerja
  4. Penggunaan masker selama bekerja
  5. Menyediakan asupan nutrisi untuk mendukung daya tahan tubuh pekerja
  6. Memfasilitasi lokasi kerja bersih dan higienis
  7. Menyiapkan sarana cuci tangan
  8. Membentuk tim Covid-19
  9. Memastikan pekerja hidup bersih dan sehat sesuai dengan protokol kesehatan yang disarankan.

Oleh : Promosi Kesehatan UPTD Puskesmas Oebobo Tahun 2020

Apa itu COVID-19?

Coronavirus Desease 19 (Covid-19) adalah penyakit yang disebabkan oleh Novel Coronavirus (2019-nCov) atau yang kini dinamakan SARS-Cov-2. Virus ini merupakana  virus jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia.

 

Bagaimana gejala covid-19?

Tanda dan gejala umum infeksi COVID-19 adalah gejala gangguan pernapasan akut seperti demam, batuk sesak napas hingga pada kasus yang berat menyebabkan pneumoni, sindrom pernapasan akut, gagal ginjal dan bahkan kematian. Masa hidup virus 2-14 hari.

 

Bagaimana penularan covid-19?

Melalui droplet/butiran ludah, kontak langsung ataupun udara (jika dilakukan tindakan medis tertentu seperti bersihkan karang gigi dan uap untuk keluarkan lender (nebulizer).

 

Bagaimana cara virus masuk ke dalam tubuh orang sehat?

Virus corona masuk melalui mulut, hidung dan mata sehingga kita harus menutup area tersebut ,menggunakan masker, kacamata atau penutup wajah.

 

Siapa saja yang berisiko terhadap covid-19?

Siapa saja bias tertular dan menularkan virus corona baik laki-laki atau perempuan, orang dewasa, anak-anak hingga lanxia. Namun, ada kelompok yang lebih rentan (resiko tinggi) terkena virus corona yaitu: penderita diabetes, kanker, HIV, wanita hamil dan gangguna pernapasan lainnya (contohnya: asma).

 

Bagaimana cara mencegah covid-19?

  • Cuci tangan pakai sabun dan air mengalir sesering mungkin.

  • Tinggal di rumah.
  • Jaga jarak (1,5 meter) dan hindari kerumunan.

  • Tidak berjabat tangan
  • Pakai masker jika sakit dan berada di tempat umum
  • Tidak menyentuh wajah sebelum menyentuh wajah
  • Menjaga daya tahan tubuh tetap kuat melalui makanan bergizi seimbang, olah raga teratur dan istirahat yang cukup.

 

Untuk mudahnya, lawan covid-19 dengan ANTIBODY :

 

Jika ada yang merasakan gejala umum Covid-19 seperti demam, batuk, sesak napas, segera ke puskesmas untuk memeriksanakan diri.

 

Jika ada masyarakat yang merasa pernah kontak dengan pasien positif maka harus segera melapor ke pihak petugas kesehatan, wajib isolasi mandiri di rumah jika tidak ada gejala dan ikuti petunjuka dari petugas kesehatan untuk tindakan pemeriksaan rapid ataupun swab.

 

Jika ada keluarga, tetangga atau kenalan di lingkungan kita yang terkena covid-19 makan jangan panik, jangan stress, jangan dikucilkan/didiskriminasi, tetap memberi dukungan dan semangat.

 

Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. Mari bersama-sama cegah dan lawan Corona Virus…Masyarakat sehat, Kota Kupang sehat.

 

Tim Promkes UPTD Puskesmas Oebobo : Afiani S. Kinle’e, SKM & Fransisco Darjan, SKM

Rumah makan merupakan tempat pengolahan makanan yang memproduksi dan menjual berbagai jenis makanan dan minuman bagi masyarakat. Hal ini sejalan dengan pergeseran pola hidup dari kebiasaan makan di rumah menjadi makan di rumah makan.

 

Sebagai konsekuensi dari perkembangan rumah makan diperlukan upaya penyehatan makanan dan minuman untuk menjamin bahwa tidak terjadi masalah kesehatan masyarakat terkait usaha rumah makan/restoran. Salah satu upaya penyehatan makanan dan minuman yang dilakukan adalah pengawasan hygiene sanitasi makanan.

 

UPTD Puskesmas Oebobo melakukan pengawasan hygiene sanitasi makanan terhadap rumah makan/restoran yang berada di wilayah kerja puskesmas. Pengawasan di dalamnya termasuk IKL (Inspeksi Kesehatan Lingkungan) dan pengambilan sampel makanan, seperti dilakukan pada hari Senin, 6 dan Selasa 7 Juli 2020 di Lippo Plaza pada Waroeng Restoran dan Lorrita Resto.

 

Pengambilan sampel dilakukan oleh Sanitarian UPTD Puskesmas Oebobo, Tabita Aderince Timu, SKM. Pengambilan sampel berupa sampel makanan dan minuman yang dijual di kedua restoran tersebut.

 

Sanitarian Tabita A. Timu, SKM melakukan pengambilan sampel makanan di Lorrita Resto

Pengawasan sanitasi restoran/rumah makan dilaksanakan setiap enam bulan sekali. Restoran/rumah makan yang memenuhi standar persyaratan selain mempunyai dampak bagi kesehatan juga mempunyai dampak ekonomi baik bagi pengusaha sendiri maupun pemerintah.

Halaman 1 dari 6