Reni Tangmau

Reni Tangmau

Staf Administrasi pada UPT Puskesmas Oebobo

Website URL: http://puskesmasoebobo@yahoo.com   |   Email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

Posyandu adalah kegiatan kesehatan dasar yang diselenggarakan dari, oleh dan untuk masyarakat yang dibantu oleh petugas kesehatan. Kegiatan Posyandu bertujuan untuk menurunkan angka kematian ibu dan bayi serta meningkatkan peran serta masyarakat untuk mengembangkan kegiatan kesehatan dan keluarga berencana serta kegiatan lainnya yang menunjang untuk tercapainya masyarakat sehat sejahtera.

Kader sebagai tenaga pelaksana kegiatan posyandu perlu ditingkatkan kapasitasnya dalam memberikan pelayanan. Melalui Kegiatan Refreshing Kader Posyandu Balita diharapkan kader dapat meningkatkan pemahaman, pengetahuan dan motivasi untuk mengembangkan pelayanan dan program tambahan lainnya di posyandu masing-masing.

Refreshing Kader Posyandu Balita UPT Puskesmas Oebobo dilakukan pada Jumat, 13 Desember 2019 Pukul 09.00 hingga selesai. Berlokasi di FS. Square Meeting Room and Resto lantai 2, Jalan Shoping Center, Fatululi.

Dihadiri oleh 110 orang Kader Posyandu Balita di wilayah kerja Puskesmas Oebobo. Dengan nara sumber petugas Promosi Kesehatan Masyarakat Puskesmas Oebobo Afiani Kinle’e, S.Km, Petugas Gizi, Merly S. Rihi Pake, Amd.Gz, Bidan Kelurahan Fatululi Nelci S.E. Lapudooh, Amd. Keb, Bidan Kelurahan Oetete Dominggas Nafanu, Amd.Keb, dan Bidan Kelurahan Oebobo Maria Nurisa Feto, Amd.Keb.

Kegiatan Refreshing Kader Posyandu Balita dilakukan melalui ceramah dan diskusi tentang Posyandu dan Startifikasi Posyandu, pengisian KMS dan Pengukuran Lila untuk deteksi Dini PGBT, dan Tanda Bahaya Kehamilan. Diakhiri dengan Penggalangan Komitmen bersama Kader Posyandu Balita untuk Peningkatan Pelayanan Posyandu di wilayah posyandu masing-masing.

Fasilitator Gizi dan Petugas Gizi UPT Puskesmas Oebobo Merly S. Rihi Pake, Amd.Gz Sedang Mempraktekan Cara Pengukuran LILA Pada Balita

UPT Puskesmas Oebobo dikunjungi oleh Peneliti dari Universitas Brawijaya, Malang.

Kunjungan dilakukan pada hari Selasa, 3 Desember 2019.

Kedatangan teman-teman disambut hangat oleh Kepala Puskesmas Oebobo, drg. Suwidji D. R. Banantari beserta Penanggung Jawab Program Disabilitas Yovita Nggame, Amd. Kep.

Kunjungan ini terkait riset/penelitian yang akan dilakukan PHDF Tentang Anak-anak Berkebutuhan Khusus, terutama Anak Down Syndrom.

Selama kunjungan dilakukan tanya jawab dan pengisian checklist.

Harapan kedepannya adalah kiranya UPT Puskesmas Oebobo semakin maju dalam pelayanan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.

3 Desember, Hari Disabilitas Internasional

Selasa, 03 Desember 2019 06:10

Hari Disabilitas Internasional atau Hari Penyandang Disabilitas Internasional diperingati setiap tanggal 3 Desember.

Peringatan tahunan Hari Difabel Internasional ini diproklamasikan pada Tahun 1992 oleh Majelis Umum PBB 47/3.

Hari Disabilitas ini diperingati untuk memperjuangkan hak-hak dan kesejahteraan para penyandang disabilitas di semua bidang dan pembangunan. Hari ini juga dibuat untuk meningkatkan kesadaran terhadap situasi para difabel di setiap aspek kehidupan, baik politik, sosial, ekonomi, dan budaya.

 

Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas, yang diadopsi pada 2006, telah semakin memajukan hak dan kesejahteraan penyandang disabilitas dalam implementasi Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan dan kerangka kerja pembangunan internasional lainnya. Beberapa kerangka kerja pembangunan internasional yang dimaksud seperti Kerangka Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana, Piagam tentang Penyertaan Penyandang Disabilitas dalam Aksi Kemanusiaan, Agenda Urban Baru, dan Agenda Aksi Addis Ababa tentang Pendanaan untuk Pembangunan.

 

Tema Hari Disabilitas tahun ini yaitu mempromosikan partisipasi penyandang disabilitas dan kepemimpinan mereka untuk mengambil peran pada Agenda Pembangunan 2030.

Tahun ini, Hari Penyandang Disabilitas Internasional (IDPD) berfokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas untuk pembangunan yang inklusif, adil, dan berkelanjutan. Hal ini seperti yang diantisipasi dalam Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan. Agenda 2030 Pembangunan Berkelanjutan berjanji untuk 'tidak meninggalkan siapa pun' dan mengakui disabilitas. sebagai isu lintas sektoral, untuk dipertimbangkan dalam implementasi 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Disabilitas dirujuk di berbagai bagian SDG dan khususnya di bagian yang terkait dengan pendidikan, pertumbuhan dan lapangan kerja, ketimpangan, aksesibilitas permukiman, serta pengumpulan data, dan pemantauan SDG.

sumber : www.tirto.id, www.kaltim.tribunnews.com

Si Gigi Bungsu yang Bikin Meringis

Kamis, 07 November 2019 02:09

Tumbuh gigi tidak hanya dialami anak kecil, orang dewasa pun mengalaminya, ketika gigi bungsu tumbuh. Gigi bungsu disebut juga wisdom tooth atau gigi geraham ketiga.

Pencabutan gigi bungsu perlu dilakukan apabila gigi tersebut tumbuh pada posisi yang miring atau tidak memiliki cukup ruang untuk tumbuh. Beberapa kriteria pertumbuhan gigi bungsu yang salah adalah tumbuh ke arah gigi geraham di sebelahnya, tumbuh ke belakang mulut, tumbuh hanya sebagian karena ruang tumbuh gigi tidak cukup dan tertanam di dalam tulang rahang.

Cabut gigi bungsu disebut juga dengan operasi odontektomi. Pada kasus pencabutan sederhana, prosedur ini bisa dilakukan oleh dokter gigi umum. Namun, pada kasus yang cukup sulit, maka cabut gigi bungsu perlu dilakukan oleh dokter gigi spesialis.

Setiap orang idealnya memiliki empat gigi bungsu yang baru tumbuh ketika mereka dewasa, yaitu dua di bawah dan dua di atas. Gejala yang hampir selalu terjadi adalah gigi bungsu tumbuh miring karena tidak ada ruang lagi di rahang.

Ketika hal ini terjadi, biasanya seseorang akan merasakan nyeri luar biasa. Itulah mengapa sering ada kondisi ketika orang dewasa kesakitan bahkan harus izin bekerja atau kuliah karena tumbuh gigi.

Gejala lain yang mungkin terasa saat gigi bungsu tumbuh adalah:

  • Gusi membengkak
  • Nyeri rahang
  • Napas tidak sedap
  • Sakit kepala
  • Demam
  • Rasa pahit di mulut
  • Sulit membuka mulut 

Tidak bisa dipastikan pula gigi bungsu tumbuh berapa lama. Ada orang yang hanya merasakan nyeri sesaat dan hilang dengan sendirinya. 

Ada pula yang selama berminggu-minggu merasakan nyeri. Bahkan ada juga yang tidak merasakan sakit sama sekali karena gigi bungsu dapat tumbuh ke atas dan tidak menabrak gigi geraham lainnya.

Daripada menerka-nerka gigi bungsu tumbuh berapa lama dan harus menahan nyeri yang mengganggu aktivitas, cabut gigi bungsu adalah pilihan terbaik.

Disadur dari https://www.sehatq.com

Posyandu tidak hanya penting bagi balita maupun ibu hamil. Lansia juga membutuhkan posyandu untuk memantau kesehatan mereka.

Proses penuaan akan berdampak pada berbagai aspek kehidupan. Ditinjau dari aspek kesehatan pertambahan usia, maka lansia akan semakin rentan terhadap berbagai keluhan fisik dan psikis.

Untuk itu, pemerintah telah menyediakan layanan kesehatan bagi lansia berupa posyandu lansia untuk memperhatikan  status kesehatan para lansia di Indonesia.

Posyandu Lansia adalah pos pelayanan terpadu untuk masyarakat usia lanjut di suatu wilayah tertentu, yang sudah disepakati dan digerakkan oleh masyarakat di mana mereka bisa mendapatkan pelayanan kesehatan.

Peserta posyandu lansia termasuk kelompok pra usia lanjut (45-59 tahun), kelompok usia lanjut (60 tahun ke atas), dan kelompok usia lanjut dengan risiko tinggi (70 tahun ke atas).

UPT Puskesmas Oebobo menyediakan Posyandu Lansia untuk memantau kesehatan masyarakat usia lanjut di wilayah kerja UPT Puskesmas Oebobo yang mencakup Kelurahan Oebobo, Oetete dan Fatululi.

Posyandu Lansia terdiri dari Posyandu Lansia Pniel I, Posyandu Pniel II, dan Posyandu Kelapa Gading di Kelurahan Oebobo.

Opa Oma antusias mengikuti rangkaian kegiatan di Posyandu Lansia Pniel
Perawat Yofita Nggame, Amd. Kep sedang memberikan penyuluhan tentang Kesehatan Olahraga bagi Lansia di Posyandu Lansia Pniel

Posyandu Kefas, Posyandu Lourdes, dan Posyandu Mawar di Kelurahan Oetete.

Kiri ke Kanan :  Perawat Meryanti, S. Kep, Ns , Asisten Apoteker Berthalia Tapaha, Amd, Farm dan Perawat Ni Wayan Nuriasih, Amd, sedang melakukan pemeriksaan kesehatan sederhana bagi Lansia di Posyandu Lansia Kefas

 

Posyandu Karmel dan Posyandu Petra di Kelurahan Fatululi.

Posyandu Lansia diselenggarakan setiap bulan. Untuk tahun 2019, Posyandu Lansia Pniel I dilaksanakan setiap pada tanggal 24, Posyandu Pniel II setiap tanggal 17, dan Posyandu Kelapa Gading setiap tanggal 7.

Posyandu Kefas setiap tanggal 15, Posyandu Lourdes setiap tanggal 8, dan Posyandu Mawar setiap tanggal 10.

Posyandu Karmel setiap tanggal 20 dan Posyandu Petra setiap tanggal 22.

Kegiatan Posyandu mencakup pemeriksaan kesehatan berupa pemeriksaan kesehatan sederhana, pemeriksaan lab sederhana, penyuluhan, dan konseling.

Pemeriksaan dilakukan oleh tenaga kesehatan dari UPT Puskesmas Oebobo yang terdiri dari Dokter Umum, Perawat, Analis Kesehatan, serta Asisten Apoteker di bawah Penanggung Jawab Upaya Kesehatan Lansia UPT Puskesmas Oebobo, yaitu Yuniyati Abineno, Amd. Kep.

Posyandu Lansia diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan lansia, baik fisik maupun psikologis. Atau secara khusus meningkatkan kesadaran para usia lanjut untuk membina sendiri kesehatannya, baik kesehatan fisik dan psikologis, meningkatkan kemampuan dan peran serta keluarga dan masyarakat dalam mengatasi kesehatan usia lanjut, meningkatkan jenis dan jangkauan pelayanan kesehatan usia lanjut, dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan usia lanjut.

 

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia atau World Mental Health Day diperingati setiap tahunnya pada tanggal 10 Oktober. Hari ini, Kamis, 10 Oktober 2019 merupakan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang ke 27.

Ayo dukung Puskesmas Oebobo dalam Lomba VLOG Kampanye Kesehatan Jiwa untuk memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ke 27 Tahun 2019 Tingkat Kota Kupang.

Caranya :
Nonton VLOG di bawah ini, like dan share di sosial media Anda, bagikan kepada Bapa, Mama, Basudara semua, sehingga semakin banyak orang yang mengerti pentingnya kesehatan jiwa.

Apabila Anda mengalami kendala dalam memberikan Like pada vidio, kemungkinan anda belum Login ke akun google Anda, pastikan Anda memiliki akun google terlebih dahulu kemudian Login dan Like Videonya.

"Salam Sehat Jiwa, Cegah Bunuh Diri"

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia atau World Mental Health Day diperingati setiap tahunnya pada tanggal 10 Oktober. Hari ini, Kamis, 10 Oktober 2019 merupakan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang ke 27.

Melalui peringatan Hari Kesehatan Jiwa Dunia, kita diajak untuk kembali menyadari sebuah persoalan di masyarakat yang belum banyak mendapatkan perhatian, yaitu Kesehatan Jiwa.

Tahun ini, WHO mengajak untuk turut berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental atau kesehatan jiwa melalui tantangan bertajuk “40 Seconds of Action”. Dikutip dari laman resmi WHO, setiap orang bisa berperan dan berkontribusi mencegah terjadinya kasus bunuh diri. Berdasarkan data WHO, bunuh diri terjadi setiap 40 detik sekali di seluruh dunia.

Melalui Hari Kesehatan Jiwa Dunia, mengingatkan kita bahwa mengakhiri hidup dengan cara pintas bisa terjadi pada siapa pun, tanpa mengenal latar belakang sosial maupun kelompok usia.

Sebagai langkah awal, berikut panduan singkat mengecek kesehatan jiwa anda ...

 

Akhirnya, Admin mengucapkan "SELAMAT HARI KESEHATAN JIWA DUNIA, CINTAI DIRIMU, CEGAH BUNUH DIRI"

Sumber : www.p2tm.kemkes.go.id, www.tribunpontianak.co.id

 

 

UPT Puskesmas Oebobo bekerja sama dengan POGI (Perkumpulan Obstetri Dan Ginekologi  Indonesia) Cabang NTT melakukan penyegaran materi bagi tenaga kesehatan, khususnya Bidan Puskesmas Oebobo tentang Preeklampsia/Eklampsia (Hypertensi dalam Kehamilan).

Materi dibawakan oleh dr. Hendriette,Sp.OG Spesial Kebidanan dan Kandungan. Bertempat di Ruang Pertemuan UPT Puskesmas Oebobo, pada Sabtu, 5 Oktober 2019, pukul 12.30 Wita hingga selesai. Kegiatan dihadiri oleh Bidan dan tenaga kesehatan di UPT Puskesmas Oebobo.

Hendriette,Sp.OG mengungkapkan ”Eklampsia merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu di semua negara. Prinsip Dasar Preeklampsia/Eklampsia adalah wanita hamil atau baru melahirkan mengeluh nyeri kepala hebat atau penglihatan kabur, dan menderita kejang atau kehilangan kesadaran / koma.”

Lebih lanjut dr. Hendriette,Sp.OG menjelaskan ”Pada Eklampsia kejang dapat terjadi tanpa tergantung pada berat ringannya hipertensi, sifat kejang tonik-klonik, koma terjadi setelah kejang dan dapat berlangsung lama. Oleh karena itu Bidan dituntut untuk peka menilai keadaan pasien, agar dapat diambil tindakan/penanganan yang tepat."

 

Tenaga Kesehatan UPT Puskesmas Oebobo berfoto Bersama dr. Hendriette,Sp.OG

Dalam rangka pencegahan dan Eliminasi Malaria 2020, UPT Puskesmas Oebobo melakukan kegiatan Penyuluhan Malaria di wilayah kerja UPT Puskesmas Oebobo.

Penyuluhan dilakukan oleh tenaga Penyuluh Kesehatan Masyarakat, Afiani Kinle’e, S.KM, Junita Kristine, S.KM beserta Penanggung Jawab Program Malaria UPT Puskesmas Oebobo, Yofita Nggame, Amd. Kep.

 

Penyuluhan Malaria di Posyandu Melati, Kelurahan Oebobo
Penyuluhan Malaria di Posyandu Melati, Kelurahan Fatululi
Penyuluhan Malaria di Posyandu Gardena, Kelurahan Fatululi
Penyuluhan Malaria di Posyandu Bayam, Kelurahan Fatululi

Penyuluhan dilakukan sepanjang bulan Oktober Tahun 2019. Bertempat di Posyandu-posyandu di Kelurahan Oebobo, Oetete dan Fatululi, dari pukul 09.00 Wita hingga selesai.

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi dan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang Malaria, sebagai langkah awal untuk mencegah penyakit Malaria.

Yofita Nggame, Amd. Kep. menjelaskan “penyakit Malaria dapat terjadi kapan saja, baik pada musim penghujan, maupun pada musim kemarau seperti sekarang ini, oleh karena itu sangatlah penting melakukan pencegahan, yaitu melalui 3M Plus”.

3M Plus yaitu Menguras atau membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air, Menutup rapat tempat penampungan air, Mendaur/ menggunakan kembali barang yang sudah tak terpakai. Plus cara lainnya misalnya menaburkan bubuk larvasida/abate pada tempat penampungan air yang sulit dibersihkan, menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk, menggunakan kelambu saat tidur, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, mengatur cahaya dan ventilasi dalam rumah, serta menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam rumah yang bisa menjadi tempat istirahat nyamuk.

 

Musim Kemarau, Awas DBD!

Rabu, 09 Oktober 2019 00:30

Demam Berdarah Dengue (DBD) biasanya terjadi pada musim hujan, namun  tahukah anda bahwa DBD juga terjadi di musim kemarau?

Halaman 2 dari 5